Belakangan publik heboh dengan video viral seorang awardee LPDP 'cukup aku aja yang WNI, anakku janga'. Video tersebut sontak viral dan sangat banyak menuai kontra.
Pasalnya, si pemilik video berinisial DS tersebut dan suaminya merupakan penerima beasiswa LPDP. Sikap mereka juga kemudian berbuntut sanksi dari LPDP lantaran suami DS, API, terbukti belum menyelesaikan kewajiban kontribusi sebagai awardee.
Menanggapi kasus ini, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Hermanto Siregar mengatakan, ada pelajaran yang dapat diambil publik dan penerima beasiswa lainnya terutama generasi muda.
Mengutip laman resmi IPB University, ia menyoroti empat poin penting sebagai bahan refleksi, yaitu:
1. Minimnya Kesadaran Individu
Menurut Prof Hermanto, pernyataan "cukup aku aja yang WNI...," mencerminkan rendahnya kesadaran yang bersangkutan, bahwa dirinya pernah menerima beasiswa yang dibiayai oleh pajak masyarakat Indonesia atau 'uang rakyat'.
"Kurangnya kesadaran itu menyebabkan kurangnya rasa berterima kasih kepada negara dan bangsa Indonesia, sehingga rasa ingin 'membalas' beasiswa itu dalam bentuk bekerja sebaik-baiknya membangun Indonesia tipis sekali atau mungkin tidak ada," ujar Prof Hermanto.
2. Berkurangnya Etika dan Norma Anak Muda
Meski tidak semua, banyak anak muda yang kurang menghormati identitas kampung halamannya. Prof Hermanto menilai keburukan kampung sendiri hendaknya tidak disebarluaskan di media sosial. Menurutnya, kurang etis rasanya jika masalah semacam ini menyebar, bahkan sampai diketahui warganet negara lain.
"Postingan menjadi viral, sebab yang menyatakan kekurangan itu adalah pihak yang sepatutnya berterima kasih kepada negara asalnya," jelas lulusan University of New England, Australia ini, dikutip dari laman IPB University pada Kamis (26/2/2026).
3. Tujuan Utama LPDP yang Terlupakan
Sejatinya, beasiswa LPDP bertujuan untuk melahirkan SDM unggul dan berdaya saing. Beasiswa LPDP memberi kesempatan untuk mahasiswa yang akan berkuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik, hingga top 100 kampus internasional.
"Dengan pengalaman tersebut, mereka diharapkan menjadi penggerak atau pemimpin pembangunan masa mendatang. Polemik ini mengingatkan kembali semua pihak pada tujuan mulia strategi pemerintah membangun SDM," tutur Prof Hermanto.
4. Bijaklah dalam Bermedia Sosial
Prof Hermanto berpesan kepada semua pihak untuk bijak dalam menggunakan media sosial, terutama dalam membuat dan mengunggah konten. Alangkah baiknya untuk mempertimbangkan dampaknya terlebih dahulu.
"Sebelum melakukan posting, pikirkan dua-tiga kali apa dampak yang mungkin timbul," tandas alumnus Lincoln University, New Zealand ini.
Simak Video "Video Izin Laporan Bos! Tasya Kamila Pamerin Kontribusi sebagai Alumni LPDP"
(nah/nah)