Aneka tenda berwarna-warni berdiri di tepi Danau Buyan. Beragam perlengkapan berkemah seperti kompor, alat masak, alat makan, hingga kursi dan meja lipat tertata di depan tenda pada Sabtu (26/9/2026) sore. Adapun para penghuni tenda asyik memancing, mengobrol, maupun sekadar duduk sambil memandang danau seluas 490 hektare tersebut.
Saya berkesempatan melali (jalan-jalan) dan berkemah di tepi Danau Buyan. Sore itu, saya mendirikan tenda di Taman Wisata Gangga Buyan. Terdapat sejumlah tempat berkemah di sisi danau yang terletak di Kabupaten, Buleleng, Bali, tersebut.
Perlu waktu sekitar 20 menit bagi saya untuk mendirikan tenda. Saya berjalan di tepi danau seusai mendirikan tenda untuk sekadar melepas penat setelah mengemudi dua jam dari Kota Denpasar. Sore itu suhu di sekitar Danau Buyan sekitar 20 derajat Celsius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Sensasi Berkemah di Tepi Tukad Unda |
Matahari perlahan-lahan menghilang di balik bukit. Sedangkan, bulan mulai nampak seiring hari berganti malam. Lampu di sejumlah tenda menyala temaram. Malam tak terlalu gelap karena pengelola camping ground menyalakan lampu di area berkemah.
Suhu pun mulai turun hingga 18 derajat Celsius. Para pekemah mengenakan jaket, sarung tangan, hingga penutup kepala untuk mengusir dingin. Saya pun mengenakan jaket, kaus kaki, dan penutup kepala agar tetap hangat.
Tenda berdiri di tepi Danau Buyan, Buleleng, Bali, Minggu (27/9/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Pengelola Taman Wisata Gangga Buyan menyediakan sejumlah gazebo yang bisa digunakan oleh pengunjung. Gazebo-gazebo itu juga dilengkapi stopkontak sehingga pelancong bisa mengisi daya telepon genggam, speaker, maupun lampu. Tempat istirahat itu juga dilengkapi keran demi memudahkan pekemah mengisi air untuk memasak maupun mencuci alat masak dan alat makan.
Fasilitas lainnya yang bisa digunakan pengunjung adalah kamar mandi. Terdapat 12 toilet yang tersebar di area berkemah seperti di samping warung dan di dekat pintu masuk tempat wisata tersebut.
Baca juga: Kolam-kolam di Air Terjun Pulau Dewata |
Penjaga camping ground berkeliling pada pukul 20.00 Wita untuk memeriksa tiket para pekemah. Saya pun baru membeli karcis saat itu karena sebelumnya petugas mempersilakan masuk untuk melihat situasi dan bisa membayar karcis malam hari.
Tiket untuk berkemah sebesar Rp 50 ribu per tenda. Sedangkan, tiket untuk pengunjung dewasa Rp 10 ribu dan anak-anak Rp 5 ribu.
Admin Taman Wisata Gangga Buyan, Eka Putri Suastini, mengeklaim harga tiket masuk tempat berkemah itu sangat terjangkau. "Apalagi, pengelola tidak melarang pengunjung membawa makanan dan minuman dari luar," tuturnya kepada detikBali.
Eka menuturkan pekemah wajib mematikan speaker sebelum pukul 23.00 Wita. Tujuannya, agar tidak mengganggu warga setempat. Imbauan itu juga terpacak di sejumlah gazebo.
Menurut Eka, pengunjung yang ingin berkemah juga bisa menyewa perlengkapan. Pengelola menyewakan aneka perkakas berkemah mulai dari kompor seharga Rp 25 ribu, wajan Rp 15 ribu, lampu Rp 20 ribu, hingga tenda Rp 100 ribu. Selain itu, terdapat delapan tempat glamping dengan beragam fasilitas seperti kamar mandi dalam dan pemanas air di area berkemah seluas enam hektare tersebut.
Taman Wisata Gangga Buyan, Eka melanjutkan, dibangun sejak 2018 dan dibuka untuk umum setahun kemudian. Tempat berkemah di Banjar Buyan, Desa Pancasari, itu justru ramai saat pandemi COVID-19 karena wisatawan mencari objek wisata yang tidak sesak. "Saat itu kami tetap buka dengan menerapkan protokol kesehatan," tutur perempuan berusia 29 tahun tersebut.
Malam makin larut. Suara jangkrik mengerik terdengar jelas. Bintang dan bulan menghias langit malam itu. Dari tenda saya bisa melihat lampu-lampu di seberang Danau Buyan.
Saya segera masuk tenda karena udara makin menggigit dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Tak lama saya pun terlelap di balik selimut.
Serunya Petik Stroberi
Matahari mulai muncul dari balik bukit. Udara di sekitar Danau Buyan mulai menghangat seiring makin tingginya surya. Kabut pun mulai menghilang.
Saya bergegas mandi setelah berkeliling di tepi danau. Pengelola Taman Wisata Gangga Buyan membangun jogging track di sisi danau yang bisa digunakan pengunjung berolahraga.
Saya pun penasaran dengan sejumlah papan bertulisan "petik stroberi" di jalan menuju area berkemah. Kebun buah tersebut terletak di belakang tenda.
Saya tiba di kebun stroberi setelah mendaki sekitar 50 meter. Kebun seluas 400 meter persegi itu dikelola oleh Ketut Budi.
Warga Desa Pancasari itu menanam stroberi mencir. Adapun, pengunjung cukup membayar Rp 50 ribu untuk satu kilogram stroberi yang dipetik. "Wisatawan bisa memetik langsung dan menimbangnya di sini," tuturnya.
Baca juga: Sensasi Wisata Petik Buah di Pulau Dewata |
Budi menanam stroberi di polybag berdiameter sekitar 50 sentimeter. Buah berwarna merah itu bergantung di bawah dedaunan dan mudah dipetik. Setiap pengunjung juga dibekali keranjang kecil untuk wadah stroberi yang dipetik.
Menurut Budi, potensi gagal panen stroberi kecil saat musim kemarau. Adapun, hama dari tanaman tersebut adalah burung, ulat, serta lalat buah.
Kebun stroberi di tepi Danau Buyan, Buleleng, Bali, Minggu (27/9/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Saya pun berkeliling kebun stroberi, memetik beberapa buah, dan sesekali langsung memakannya. Rasa stroberi mencir tidak terlalu asam dan teksturnya renyah. Dari kebun stroberi nampak Danau Buyan.
Budi mengatakan sekitar 30 wisatawan berkunjung ke kebun stroberi saat akhir pekan. "Tiap pengunjung rata-rata memetik satu kilogram," ungkapnya.
Budi kerap kehabisan stroberi saat hari libur karena ramainya pengunjung. Walhasil, sebagian pelancong batal memetik stroberi karena buahnya habis.
Tak terasa jumlah stroberi yang saya petik mencapai 1,5 kilogram. Budi bergegas menimbang stroberi dan memilahnya. Buah yang mulai membusuk ia singkirkan dan meminta saya mencari gantinya. "Biar nanti saat tiba di Denpasar buahnya masih bagus," imbuhnya.
(gsp/gsp)

