Sebuah kerangka manusia dipamerkan di Gedung Timur lantai 1 Museum Bali. Kerangka dengan kaki tertekuk tersebut merupakan tulang, yang diperkirakan, manusia purba modern (Homo sapiens). Di sisi kerangka yang ditemukan di situs Gilimanuk, Jembarana, Bali, tersebut terdapat sejumlah bekal kubur.
Salah satu pemandu Museum Bali, Tania Pardosi, menuturkan bekal kubur ikut dikubur bersama pemiliknya karena manusia purba meyakini ada kehidupan setelah kematian. "Bekal kubur bisa seperti wajan dan perhiasan," tuturnya kepada detikBali, Selasa (4/8/2026).
detikBali melali (pelesiran) ke Museum Bali, Selasa lalu. Museum yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan Bali tersebut berlokasi di Jalan Mayor Wisnu, Nomor 1, Denpasar.
Pembangunan Museum Bali diinisiasi oleh Asisten Residen Bali Selatan W. F. J. Kroon pada Juli 1910. Kini museum tersebut memiliki 16.891 benda koleksi beragam klasifikasi seperti filologika (naskah kuno) berjumlah 321, numismatika (koin, uang kertas, token, dan medali) sebanyak 7.801, hingga benda seni rupa berjumlah 2.765 buah.
Tiket masuk Museum Bali untuk wisatawan nusantara sebesar Rp 30 ribu. Sedangkan, karcis untuk pelancong mancanegara Rp 100 ribu, mahasiswa Rp 10 ribu, dan pelajar Rp 5 ribu. Museum Bali buka pukul 08.00 hingga 16.30 Wita dan tutup saat hari libur nasional.
Sarkofagus juga dipamerkan di Gedung Timur lantai 1. Namun, peti mayat dari batu dan kerangka Homo sapiens yang dipajang tersebut merupakan replika. "Yang asli ada di Gilimanuk (Museum Manusia Purba Gilimanuk)," papar Tania.
Pengelola Museum Bali memamerkan koleksi prasejarah seperti masa berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, dan perundagian di Gedung Timur lantai 1. Selain itu, detikers juga bisa belajar terkait sejarah Bali kuno, Bali pertengahan, dan Bali baru di ruangan tersebut.
Adapun di Gedung Timur lantai 2 menampilkan koleksi yang terkait puncak-puncak kebudayaan Bali dalam aspek ritual keagamaan seperti Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya, hingga Bhuta Yadnya. Benda yang dipamerkan antara lain genta; kurungan ayam untuk upacara tiga bulanan; hingga perlengkapan untuk ngaben seperti bade.
Salah satu pemandu, Filipus Salim Santoso, menerangkan di Gedung Timur lantai 2 juga terdapat benda teknologi pertanian dan peninggalan kolonial. Beragam alat pertanian zaman dahulu yang dipamerkan antara lain penampad yang berfungsi untuk membabat rumput dan meratakan tanah dan lampir untuk membajak sawah. "Lampir ditaruh di punggung sapi atau kerbau untuk membajak sawah, tapi sekarang petani sudah pakai traktor," ungkap mahasiswa Universitas Udayana jurusan arkeologi tersebut.
Adapun benda peninggalan masa penjajahan yang dipamerkan antara lain teropong, peluru, topi, senapan, telepon, hingga radio. Sebagian koleksi museum yang dipamerkan diletakkan dalam sebuah tempat yang ditutupi kaca serta sinar lampu menyorot ke barang koleksi tersebut. Namun, ada pula barang bersejarah yang ditaruh secara terbuka sehingga pengunjung bisa mengamatinya lebih dekat.
(gsp/nor)