Seorang petugas objek wisata Alas Pala Sangeh mengoleskan alkohol ke punggung turis asing. Musababnya, pelancong mancanegara berambut pirang tersebut dicakar monyet saat berkeliling hutan kera seluas 14 hektare tersebut.
Ketua Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh Ida Bagus Gede Pujawan menuturkan hutan kera tersebut sudah memiliki prosedur operasional standar (SOP) penanganan cakaran dan gigitan monyet. Salah satunya, dengan mencuci bagian tubuh yang dicakar monyet, membalurnya dengan alkohol, serta mengoleskan antiseptik.
Mitigasi tersebut bisa diterapkan untuk wisatawan yang dicakar monyet tanpa menimbulkan luka. "Kalau luka gigitan, wajib dikasih vaksin antirabies (VAR) dan itu jadi standar layanan di sini," tutur Pujawan, Selasa (28/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data DTW Alas Pala Sangeh menyebutkan pada Juni 2026 terdapat 11 kejadian (wisatawan dicakar atau digigt monyet). Sedangkan, jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata yang berlokasi di Kabupaten Badung tersebut pada Juni mencapai 19.810 pelancong.
Adapun, sejak 1 hingga 25 Juli terdapat 29 kejadian yang terdiri dari 13 turis dicakar dan sisanya digigit monyet. Namun, jumlah kunjungan pelancong pada periode tersebut mencapai 23.113 orang.
Data Dinas Kesehatan Bali menyebutkan sejak Januari hingga Juni 2026 jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) mencapai 34.561 kasus. Jumlah kasus di Badung mencapai 6.599; Karangasem (4.403); Denpasar (4.214); Buleleng (3.930); Tabanan (3.864); Gianyar (3.834); Jembrana (3.408); Klungkung (2.485); dan Bangli (1.824). Adapun kera termasuk salah satu HPR.
Wisatawan asing tengah memfoto monyet di Hutan Kera Sangeh, Selasa (28/7/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Menurut Pujawan, monyet di Alas Pala Sangeh tidak agresif meski dikunjungi wisatawan. Primata itu baru mencakar atau menggigit saat berusaha dipegang dan diusik wisatawan.
DTW Alas Pala Sangeh, Pujawan melanjutkan, akan membangun klinik di area objek wisata tersebut. Tenaga kesehatan dan stok VAR bakal disuplai oleh Puskesmas Abiansemal. "Pembangunan klinik masih menunggu persetujuan dari Desa Adat Adat Sangeh," ungkapnya.
Adapun, selama ini, turis yang terluka akibat gigitan monyet langsung dilarikan ke Puskesmas Abiansemal untuk diinjeksi VAR. Selain itu, tenaga kesehatan dan pengelola hutan kera akan meminta identitas pelancong tersebut.
Pujawan mengklaim DTW Alas Pala Sangeh nol kasus rabies sejak tempat pelesiran itu dibuka pada Januari 1969. Pembangunan klinik dapat menangkal kekhawatiran pelancong terpapar rabies saat rekreasi di hutan monyet tersebut. "Kekhawatiran rabies itu pasti ada, tapi bisa diminimalisasi dengan program-program tersebut," ujarnya.
detikBali sempat berkeliling Alas Pala Sangeh. Sejumlah petugas terlihat berjaga dan sesekali mendampingi wisatawan yang tengah rekreasi. Para fotografer juga memberikan instruksi kepada wisatawan saat hendak berfoto dengan para monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) agar tidak dicakar atau digigit.
Imbauan agar wisatawan tidak mengusik kera juga kerap disampaikan petugas melalui pengeras suara. Pengelola DTW juga memasang sejumlah papan peringatan agar para pelancong tak mengganggu monyet. Terdapat sekitar 700 monyet di Hutan Kera Sangeh.
Baca juga: Kera Makan Pelancong Bertambah |
Salah seorang wisatawan, Hamdani, sempat khawatir dicakar atau digigit monyet saat pelesiran di Hutan Kera Sangeh. Apalagi, pria asal Probolinggo, Jawa Timur, itu baru pertama kali berkunjung ke alas monyet tersebut.
Kera itu juga sempat mengejar Hamdani karena mengincar makanan yang dibawanya. "Monyet juga sempat naik ke bahu," tutur pria berusia 21 tahun itu.
Rasa gusar Hamdani digigit atau dicakar monyet berkurang karena sejumlah petugas DTW Alas Pala Sangeh kerap berkeliling memantau wisatawan. "Asalkan ikuti petunjuk mereka (petugas) jadi tak takut digigit atau dicakar monyet," tutur pria berkemeja itu.
