detikBali

Sosok Putri, Satu-satunya Guide Snorkeling Perempuan di Desa Les Buleleng

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sosok Putri, Satu-satunya Guide Snorkeling Perempuan di Desa Les Buleleng


Sui Suadnyana, Wijaya Kusuma - detikBali

Ni Luh Putri Kusuma Dewi, satu-satunya guide snorkeling perempuan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng. (Wijaya Kusuma/detikBali)
Foto: Ni Luh Putri Kusuma Dewi, satu-satunya guide snorkeling perempuan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng. (Wijaya Kusuma/detikBali)
Buleleng -

Sosok Ni Luh Putri Kusuma Dewi mencuri perhatian di tengah keramaian aktivitas wisata bahari di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali. Perempuan berusia 22 tahun itu menjadi satu-satunya guide snorkeling perempuan yang rutin mendampingi wisatawan menikmati keindahan bawah laut Bali utara.

Perjalanan Putri menjadi pemandu wisata laut bermula sejak usia 17 tahun. Saat itu, kelompok wisata di Desa Les membutuhkan pemandu perempuan untuk mendampingi turis yang berkunjung.

"Awalnya banyak tamu yang datang ke Desa Les. Di kelompok itu cari guide snorkeling, dahulu belum ada perempuan. Saya diajak ikut karena bapak juga guide snorkeling dan dive," kata Putri kepada detikBali, Minggu (14/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedekatan Putri dengan laut sudah terjalin sejak kecil. Rumahnya yang tak jauh dari pantai membuatnya hampir setiap hari bermain dan berenang di laut sepulang sekolah. Kemampuan berenangnya bahkan sudah terasah sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

ADVERTISEMENT

Pengalaman bertahun-tahun berinteraksi dengan laut membuat Putri dipercaya mendampingi wisatawan lokal maupun mancanegara yang snorkeling di perairan Desa Les. Ia bisa memandu puluhan turis bersama belasan guide lain dalam satu sesi.

Ni Luh Putri Kusuma Dewi, satu-satunya guide snorkeling perempuan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, saat snorkeling di peraian tersebut. (Dok. Ni Luh Putri Kusuma Dewi)Foto: Ni Luh Putri Kusuma Dewi, satu-satunya guide snorkeling perempuan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, saat snorkeling di peraian tersebut. (Dok. Ni Luh Putri Kusuma Dewi)

Meski terlihat menyenangkan, pekerjaan itu tidak selalu mudah. Tantangan terbesar justru muncul ketika wisatawan sudah berada di dalam air dan terlalu menikmati pemandangan bawah laut.

"Kalau sudah lihat terumbu karang atau ikan-ikan, mereka kadang terlalu asyik sendiri. Sudah dipanggil guide tetap ingin ke sana ke sini. Itu yang paling susah," ungkap Putri.

Putri harus selalu memastikan wisatawan mematuhi aturan keselamatan selama snorkeling. Tak jarang ada turis yang ingin melepas pelampung atau mencoba menyelam lebih dalam karena penasaran dengan keindahan bawah laut.

"Ada yang tanya boleh buka life jacket atau renang ke bawah. Saya bilang tidak karena berbahaya," tegas Putri.

Selain menjaga keselamatan wisatawan, Putri juga sempat menghadapi tantangan bahasa saat pertama kali mendampingi turis asing. Kemampuan bahasa Inggris yang terbatas membuatnya beberapa kali kesulitan memberikan arahan.

"Saya bingung dahulu bagaimana mengarahkan tamu. Akhirnya belajar dari teman-teman, pakai bahasa sederhana saja, yang penting tamu mengerti dan aman," ungkap gadis itu sambil tersenyum.

Perairan Desa Les memang dikenal memiliki hamparan terumbu karang, ikan hias hingga area transplantasi terumbu karang yang menjadi daya tarik wisatawan. Keindahan itulah yang setiap hari dijaga Putri sembari memastikan para tamu dapat menikmati pengalaman bawah laut dengan aman.

Menurut Putri, waktu terbaik untuk menikmati snorkeling di Desa Les adalah pagi hari sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 Wita. Kondisi laut relatif tenang dengan visibilitas bawah air yang lebih jernih pada waktu tersebut.

"Saya senang kalau tamu puas dan bisa melihat keindahan bawah laut di sini. Yang penting mereka aman dan bisa menikmati laut Desa Les," terang Putri.



(iws/iws)









Hide Ads
LIVE