Sepuluh tahun lalu, Anjungan Tukad Melangit di Desa Adat Antugan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, pernah diserbu wisatawan untuk berswafoto. Kini, anjungan dengan pemandangan hutan lebat di pinggir bukit itu sudah ditutup permanen.
"Ya, sudah mulai berkurang pengunjungnya itu 2019. Hingga 2020, sudah tidak ada lagi pengunjung dan ditutup sampai sekarang," kata penggagas Anjungan Tukad Melangit Kadek Arta ditemui detikBali di rumahnya, Sabtu (23/5/2026).
Baca juga: Sensasi Wisata Petik Buah di Pulau Dewata |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi Anjungan Tukad Melangit tidak sulit dijangkau. Titiknya, sudah tertera di peta Google, meski tidak akurat. Ada label tutup permanen yang juga ditunjukkan di peta Google.
Titik lokasi yang sebenarnya, ditunjukkan dalam jarak sekitar satu menit dari titik yang ditunjukkan peta Google. Akses masuknya, berupa jalan tanah selebar sepeda motor bebek.
detikBali mampir ke Anjungan Tukad Melangit. Jalan tanah akses ke anjungan adalah jalan ke rumah Arta. Hutan lebat dengan dominasi pohon pisang menutup pelataran di kiri dan kanan jalan setapak.
Kondisi terkini Anjungan Tukad Melangit di Bangli. (Foto: Aryo Mahendro/detikBali) |
Jalan beberapa meter, barulah terlihat dua bangunan yang merupakan rumah Arta. Ada juga bangunan lain yang nampak. Di antaranya, bak beton, tempat menyimpan air, tempat parkir motor, dan toilet.
"Di sisi timur itu, dahulu parkiran mobil. Sekarang sudah jadi hutan. Kalau sisi selatan ada bekas ayunan," kata Arta.
Letak anjungannya, berada di halaman belakang rumah Arta. Yakni, di sisi barat bangunan rumahnya.
Di sana, ada dua dermaga yang menjorok ke jurang di pinggir bukit, yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berswafoto. Tapi, dua dermaga itu tinggal sisa-sisa saja.
Satu dermaga dalam kondisi tinggal rangka besinya saja. Sedangkan dermaga anjungan di sebelahnya, hanya lantai dengan lapisan cor-coran beton, tanpa pagar pembatas.
"Pagar pembatasnya sudah lapuk karena dibuat dari bambu yang didapat di sekitar halaman ini. Sisa tiangnya saja karena itu besi," katanya.
Di dekat dua anjungan itu, ada bangunan rumah terbuat dari kayu. Rumah itu disediakan agar tamu dapat bersantai menikmati pemandangan tanpa harus naik.
Sementara itu, pelataran di sekitar anjungan yang dulunya lapang, kini sudah lebat. Rumput, tanaman putri malu, pohon kepala, pohon pisang, pohon bambu dan tanaman lain seolah ada dan tumbuh dengan sendirinya.
"Karena lama nggak dibersihkan. Jadi, tsnaman ini semua tumbuh sendiri," katanya.
Arta mengatakan Anjungan Tukad Melangid yang kini hanya tinggal rangka besi itu adalah karyanya bersama sembilan rekannya yang lain pada awal 2016 lalu. Tujuannya, untuk tempat nongkrong saat sore hingga malam, bukan tempat wisata.
Kondisi terkini Anjungan Tukad Melangit di Bangli yang sudah tak buka lagi. (Foto: Aryo Mahendro/detikBali) |
Hingga pada suatu hari, salah seorang rekan Arta memotret temannya yang lain yang sedang nongkrong di anjungan itu. Hasil jepretan teman Arta lalu diunggah di media sosial.
Tak lama, banyak warganet yang mulai melirik dan bertanya lokasi. Beberapa bahkan sudah mendatangi tempat Arta nongkrong bersama teman-temannya.
"Dulunya memang tidak punya niat membuat tempat wisata. Hanya tempat ngopi saja bareng teman-teman," kata pekerja peternakan ayam itu.
Sejak saat itu, halaman rumahnya mulai dikunjungi orang. Awalnya, hanya warga Bangli saja yang datang dan berswafoto di anjungan buatannya.
Tak butuh waktu lama, halaman rumahnya ramai didatangi pengunjung dari luar kota, luar provinsi, hingga turis asing. Anjungan yang awalnya terbuat dari bambu, terpaksa dibongkar dan dibuat ulang dengan rangka besi.
"Untuk keselamatan. Karena posisinya di pinggir jurang dan dahulunya terbuat dari bambu yang kami ambil di sekitar halaman ini," katanya.
Halaman rumah Arta semakin sering didatangi pengunjung. Arta mengatakan, karena banyak pengunjung, ada lagi satu anjungan yang posisinya di sebelah anjungan buatan Arta.
Anjungan itu lebih kuat dan tahan lama karena lantainya memakai cor- coran beton. Waktu berjalan, beberapa pengunjung bahkan meminta disediakan toilet.
"Akhirnya paman saya bangun satu dua toilet dan satu warung kopi kecil di sini. Pengunjung yang dari kota banyak yang minta toilet," katanya.
"Kami juga adakan sumbangan sukarela saja Rp 5.000. Tidak ada tiket masuk waktu itu," imbuhnya.
Nahas, isu wabah COVID-19 yang terjadi di Kota Wuhan, China, jadi perhatian dunia. Setahun kemudian, wabah mematikan itu melanda seantero Indonesia.
Anjungan Tukad Melangit buatan Arta terkena imbas. Pengunjung mulai berkurang drastis.
Hingga akhirnya, Arta terpaksa menutup anjungannya sejak pemerintah mewajibkan pembatasan aktivitas masyarakat di dalam maupun di luar ruangan. Spot foto Instagramable itu otomatis mati suri hingga kini.
"Baru jalan empat tahun. Padahal sudah ada rencana buka warung makan kecil. Sedia makanan khasnya di sini. Tapi, keburu kena COVID-19, jadi ya tutup sampai sekarang," katanya.
Kini, areal anjungannya itu hanya rumah pribadinya saja. Arta mengaku enggan membuka kembali wisata Anjungan Tukad Melangid yang pernah berjaya satu dekade lalu.
Alasannya, klasik. Tidak ada biaya untuk membersihkan semua vegetasi yang membuat halaman rumahnya nampak seperti semi hutan.
Selain itu, dirinya mengaku pernah ditawari perangkat Desa Jehem untuk membuka kembali anjungannya itu. Namun, tawaran itu hingga kini baru sebatas pembicaraan saja.
"Saya ditawarkan untuk membuka anjungan lagi. Katanya, mau dikembangkan lagi. Tapi sekarang belum ada (realisasi). Masih pembicaraan saja," katanya.
Arta mengatakan belakangan masih ada segelintir pengunjung yang mencoba menyambangi anjungannya. Mereka mengaku pernah berkunjung di Anjungan Tukad Melangit beberapa tahun lalu.
Hanya, karena penutupan yang dilakukan tanpa pemberitahuan, pengunjung otomatis kecele. "Ada orang-orang yang dulu pernah ke sini, sering berkunjung. Tapi saya bilang, sudah tutup," katanya.
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika mengatakan, potensi kreativitas masyarakat perlu dieksplorasi pemerintah Kabupaten Bangli. Hal sebagai upaya menciptakan tempat atau atraksi wisata baru yang akan berdampak positif ada pendapatan asli daerah (PAD).
"Memang perlu ada upaya menggali sumber dan potensi tempat wisata. Termasuk menggali potensi masyarakat sekitar," kata Suastika.
Suastika mengatakan upaya yang dilakukan Pemkab Bangli, juga perlu memperhatikan kemampuan APBD. Sebab, banyak tempat wisata di Kecamatan Tembuku dan kecamatan lain di Bangli yang mati setelah sempat berjaya beberapa tahun lalu.
"Karena persoalannya, kemampuan keuangan daerah. Jadi, perlu dilakukan bertahap. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah pendataan tempat wisata mana saja di Bangli yang dapat dibangun lagi," katanya.
(hsa/hsa)












































