Sejak dahulu masyarakat Bali hidup berdampingan dengan berbagai kebudayaan. Salah satu bukti multikulturalisme di Pulau Dewata dapat dilacak pada tinggalan arkeologis di Goa Gajah.
Goa Gajah merupakan situs yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan jika berangkat dari Kota Denpasar. Lokasinya juga tidak sulit ditemui karena terletak di pinggir jalan raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situs yang telah berdiri sejak abad ke-12 masehi ini memiliki jejak kebudayaan Hindu dan Budha. Artefak di Goa Gajah yang telah menjadi cagar budaya ini menjadi saksi bisu harmonisnya kehidupan beragama di masa lalu.
Apa saja tinggalan arkeologis situs Goa Gajah?
Saat mendatangi situs ini, pengunjung akan disambut oleh sosok yang terpahat di atas mulut goa. Sosok tersebut merupakan Kala Makara dengan dua arca dwarapala. Kala Makara dan dwarapala merupakan simbol penjaga dalam konsep Hindu Jawa dan Bali.
Memasuki area goa yang lebih dalam, pengunjung akan menemui lorong berbentuk seperti huruf, percabangan ke barat dan timur. Lorong ini memiliki beberapa ceruk. Arca Trilingga menempati ceruk di ujung timur sementara arca Ganesha menempati sisi barat.
Arca-arca yang menghuni goa ini juga dapat ditemukan di area luar goa. Arca tersebut di antaranya: Hariti, Ganesha, dan raksasa. Hariti awalnya merupakan tokoh jahat, tetapi berubah menjadi penyayang setelah mendalami ajaran Budha.
Goa Gajah menjadi salah satu bukti kerukunan dua agama, khususnya untuk agama Hindu dan Buddha di Bali. Begini potretnya. (Foto: Ni Made Nami Krisnayanti) |
Penghuni lain di kawasan ini berada di sekitar petirtaan. Arca-arca ini ditempatkan pada tepian kolam. Satu arca bidadara ditemani oleh dua arca bidadari. Artefak yang tersebar ini menyiratkan kawasan situs yang cukup besar dan kompleks.
Area di situs ini terbagi dalam dua bagian, utara dan selatan. Sebagian tinggalan berada di area utara dan sisanya menempati bagian selatan.
Bagian utara merupakan tempat arca Ganesha, Goa Gajah, dan Pura Goa Gajah, yang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Sementara di bagian selatan, ada reruntuhan stupa yang dipercaya sebagai kawasan tempat beribadah umat Buddha. Dua kawasan tersebut dipisahkan oleh sungai.
Apa keunikan situs Goa Gajah?
Situs Goa Gajah memiliki daya tarik berupa dua kompleks peribadatan yang melambangkan multikulturalisme antara Hindu dengan Buddha yang saling berdampingan. Pahatan Kala Makara yang ada di mulut goa menjadi salah satu yang tertua.
Bentuk relief Kala Makara ini masih mirip dengan gaya Kala Makara yang ada di candi-candi Pulau Jawa. Hal ini berkaitan dengan pengaruh Majapahit yang saat itu masih berkuasa.
Sapta Gangga atau Sapta Nadi di Goa Gajah, Gianyar, Bali Foto: Ni Made Nami Krisnayanti |
Goa Gajah telah difungsikan sebagai tempat keagamaan pada masa lampau dan kini telah direkonstruksi sebagai tempat ibadah dan wisata. Dalam aspek spiritual, relasi antara Goa Gajah dan kolam petirtaan yang dilengkapi patung widyadara dan widyadari (bidadari) mencerminkan konsep Tri Hita Karana.
Litasaniadhari, dkk (2024) mengungkapkan bahwa keduanya merupakan simbolisasi budaya dari gunung dan laut. Goa sebagai representasi gunung, sementara kolam sebagai representasi laut.
(iws/iws)

