Desa Nyambu Jadi Percontohan Penggunaan Teraso dari Limbah Botol Kaca

Abrur - detikBali
Jumat, 22 Apr 2022 23:01 WIB
Penyerahan terazo hasil daur ulang limbah botol kaca bekas dari Diageo Indonesia dan Kopernik kepada Pemerintah Desa Nyambu, Jumat (22/4/2022).
Penyerahan terazo hasil daur ulang limbah botol kaca bekas dari Diageo Indonesia dan Kopernik kepada Pemerintah Desa Nyambu, Jumat (22/4/2022). Foto: abrur/detikBali
Tabanan -

Desa Nyambu di Kecamatan Kediri, Tabanan, menjadi proyek percontohan pemanfaatan teraso hasil daur ulang limbah botol kaca untuk menunjang kegiatan ecowisata.

Kegiatan daur ulang ini dilakukan Diageo Indonesia, sebuah perusahaan alkohol global, yang berkolaborasi dengan Kopernik, organisasi penelitian dan pengembangan yang berfokus pada isu sosial dan lingkungan.

Teraso hasil daur ulang dalam bentuk wastafel dan meja itu dihibahkan kepada Pemerintah Desa Nyambu bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, Jumat (22/4/2022).


Selain Desa Nyambu, Diageo Indonesia dan Kopernik melakukan hal serupa kepada desa-desa lainnya.

"Saat ini karena baru pilot project, memang barangnya terbatas, karena ini dalam kerangka mendukung Desa Wisata Nyambu," jelas Diretor Coorporate Affair Diageo, Dendy Borman.

Meski begitu, pihaknya juga tidak menutup peluang mengumpulkan limbah botol kaca yang lebih banyak untuk didaur ulang sebagai teraso dan diberikan kepada desa-desa lainnya.

"Kami punya visi lebih besar mengumpulkan botol kaca bekas lebih banyak bekerja sama dengan pihak-pihak yang lebih luas sehingga terbuka untuk tempat-tempat lainnya di Bali," katanya.

Kegiatan daur ulang yang dijalankan Kopernik ini diawali dengan mengumpulkan botol-botol kaca bekas dari berbagai tempat di Bali. Dari hotel, restoran, bar, maupun pengelola sampah.

Limbah botol kaca bekas ini tidak hanya berlaku untuk produk keluaran Diageo Indonesia. Di tahap awal, program ini mampu mengumpulkan 700 limbah botol kaca termasuk produk Diageo. Berat totalnya mencapai 270 kilogram.

"Untuk proses pengumpulan kami fokuskan pada outlet-outlet seperti restoran, bar, dan hotel yang biasanya tamu-tamu mereka banyak mengkonsumsi minuman dengan wadah botol kaca," jelas Associate Manager Last Mile Consulting Kopernik.

Ia menyebutkan, selama pandemi Covid-19 banyak outlet-outlet di sektor pariwisata yang menyimpan limbah botolnya karena belum cukup banyak untuk diambil.

"Ini kami targetkan untuk dikumpulkan sehingga limbahnya semakin banyak," sambungnya.

Peningkatan jumlah limbah botol kaca ini akan dilakukan secara bertahap. Pada pertengahan tahun ini ditargetkan dua ribu botol dan tiga ribu botol di kuartal ketiga dan keempat.

Sementara itu, Perbekel Nyambu, I Nyoman Biasa, berharap kegiatan daur ulang untuk memberi nilai tambah terhadap limbah botol bekas ini bisa berkembang menjadi kerajinan di desanya.

"Mudah-mudahan ke depannya, ada masyarakat kami yang bisa membuat hal seperti ini. Tinggal nanti diadakan pelatihan. Mudah-mudahan ini nantinya bisa menjadi harapan bersama," pungkasnya.



Simak Video "Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat #GerakanSapuPlastik"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)