Pemkot Mataram Bakal Polisikan Bos Badut-badut Jalanan

Nathea Citra - detikBali
Jumat, 23 Okt 2026 19:30 WIB
Foto: Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu MartawangAsisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, saat diwawancarai, Selasa (12/5/2026). (Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram siap memidanakan koordinator yang diduga mengendalikan bisnis badut jalanan di wilayah Mataram.

"Manakala itu terbukti dimobilisasi dengan modus ekonomi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kami bisa pidanakan," kata Plt Kasatpol PP Kota Mataram, Lalu Martawang, saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).

"Jangan berlindung di balik persoalan keterimpitan ekonomi. Ada motif-motif lain di baliknya. Saya juga mendapatkan laporan bahwa mereka ini dimobilisasi oleh oknum," sambungnya.

Seperti diketahui, sebagian besar simpang dan jalan protokol di Mataram mulai dipenuhi badut. Jumlah para badut ini pun kian bertambah setiap pekannya.

Martawang menegaskan pihaknya akan melakukan identifikasi dan penelusuran di lapangan dengan melibatkan sejumlah OPD.

"Kami sedang meminta tim untuk melakukan pelacakan di lapangan. Lalu kemudian pemetaan di titik-titiknya," jelasnya.

Di sisi lain, Martawang menyebut pihaknya tengah mendalami dugaan adanya 'kampung miskin' yang ada di salah satu kelurahan di Kota Mataram. Beredar kabar bahwa kampung tersebut menjadi wadah bagi mereka yang ingin bekerja menjadi badut dan PMKS lainnya.

"Ini makanya kita cek bersama. Kita koordinasi dengan Dinas Sosial untuk melakukan tindak lanjut," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Sosial Mataram menemukan indikasi praktik bisnis dan eksploitasi terorganisasi di balik maraknya keberadaan badut jalanan di Mataram. Berdasarkan penelusuran Dinsos Mataram, penghasilan yang didapatkan seorang badut jalanan biasa menembus Rp 16 juta per bulan.

"Ini seperti ruang yang menggiurkan. Dari data yang pernah dihimpun, pendapatan satu badut itu bisa mencapai Rp 13 juta sampai Rp 16 juta per bulan," kata Kepala Dinsos Mataram, Muzakkir Walad, sebelumnya.

Menurut Muzakkir, para badut yang beraksi di persimpangan jalan bukan lagi menjadi aksi perorangan dengan dalih mencari nafkah. Melainkan sudah masuk kategori mengemis secara terselubung dan terorganisasi.

"Ini mengemis secara elegan. Mereka cuma begini-begini saja, sudah dapat hasil. Gimana tidak menggiurkan," ucap Muzakkir.



Simak Video "5 Warga Bekasi Diamankan Saat Buru Sapu-sapu di Jakpus Buat Dijual"

(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork