Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram menemukan indikasi adanya praktik bisnis dan eksploitasi terorganisasi di balik maraknya keberadaan badut jalanan di kawasan Kota Mataram. Dari penelusuran Dinsos, penghasilan yang didapatkan seorang badut bisa menembus Rp 16 juta per bulan.
"Ini kan seperti ruang yang menggiurkan. Dari data yang pernah dihimpun, pendapatan satu badut itu bisa mencapai Rp 13 juta sampai Rp 16 juta per bulan," kata Kepala Dinsos Kota Mataram, Muzakkir Walad, Selasa (6/10/2026).
Menurut Muzakkir, para badut yang beraksi di persimpangan jalan bukan lagi menjadi aksi perorangan dengan dalih mencari nafkah. Melainkan sudah masuk kategori mengemis secara terselubung dan terorganisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mengemis secara elegan. Mereka cuma begini-begini saja, sudah dapat hasil. Gimana tidak menggiurkan," ucap Muzakkir.
Berdasarkan pantauan Dinsos di lapangan, sekitar 32 badut jalanan yang beroperasi di sejumlah titik simpang di Kota Mataram. Antara lain di simpang Selaparang, simpang Sandubaya, hingga jalan-jalan protokol Kota Mataram. Puluhan badut ini diduga bernaung di bawah koordinator atau manajemen milik salah satu warga Kota Mataram.
"Memang ada yang mengelola, dan terstruktur. Ada koordinatornya di wilayah Petemon dan satu lagi di wilaya Bertais. Dan kebanyakan pemainnya didatangkan dari luar daerah, salah satunya dari Solo," terangnya.
Sementara itu, Muzakkir mengungkapkan, bahwa langkah penertiban dan pembinaan kepada puluhan badut jalanan tersebut sempat tak berjalan mulus. Sebab, dalam beberapa kali penertiban, para petugas Dinsos kerap mendapatkan ancaman dari sejumlah oknum-oknum yang melindungi keberadaan badut jalan.
"Kemarin satgas saya sempat diancam saat penertiban di lapangan. Karena itu kami (langsung) berkoordinasi dengan pihak babin dan lurah setempat, untuk memanggil para koordinator (badut) itu. Agar diproses dengan jelas," tuturnya.