detikBali

Satpol PP Buru Pengendali Bisnis Badut Jalanan di Mataram

Terpopuler Koleksi Pilihan

Satpol PP Buru Pengendali Bisnis Badut Jalanan di Mataram


Nathea Citra - detikBali

Salah satu badut berkeliaran di titik sentra kuliner takjil di Pagutan, Kota Mataram, Minggu (8/3/2026). Nathea Citra/detikBali
Salah satu badut berkeliaran di titik sentra kuliner takjil di Pagutan, Kota Mataram, beberapa waktu lalu. (Foto: Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram tengah memburu dua koordinator yang diduga mengendalikan bisnis badut jalanan di wilayah Mataram. Pasalnya, jumlah badut yang mangkal di jalan protokol di Mataram kian bertambah.

Satpol PP Mataram mengancam akan menindak tegas dengan menyita kostum badut jalanan itu secara permanen. "Kami mapping dan cari koordinatornya," kata Kasatpol PP Kota Mataram, Irwan Rahadi, saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Irwan mengungkap tiga motif utama yang menyebabkan maraknya badut jalanan di Mataram. Mulai dari faktor ekonomi, sengaja melakukan gangguan keamanan di jalan raya, hingga adanya kelompok yang bergerak secara terkoordinasi.

"Yang diantisipasi itu ada tiga motif badut. Ada yang terkoordinir, murni mencari nafkah, dan sengaja melakukan gangguan keamanan," ujar Irwan.

ADVERTISEMENT

"Kami suruh Dinsos untuk pembinaan secara administrasi dulu, dengan catatan jangan mengulangi. Kalau besok dia tertangkap lagi dan mengulangi, kami sita permanen (kostumnya)," sambungnya.

Irwan mengingatkan jalan raya dan ruang publik harus bebas dari aktivitas badut maupun pengamen. Hal itu demi menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

"Kami ingin kasih efek jera. Kalau sudah satu kali, dua kali diingatkan, masih beraktivitas, kami tindak," pungkasnya.

Sebelumnya, Dinas Sosial (Dinsos) Mataram menemukan indikasi praktik bisnis dan eksploitasi terorganisasi di balik maraknya keberadaan badut jalanan di Mataram. Berdasarkan penelusuran Dinsos Mataram, penghasilan yang didapatkan seorang badut jalanan biasa menembus Rp 16 juta per bulan.

"Ini seperti ruang yang menggiurkan. Dari data yang pernah dihimpun, pendapatan satu badut itu bisa mencapai Rp 13 juta sampai Rp 16 juta per bulan," kata Kepala Dinsos Mataram, Muzakkir Walad, belum lama ini.

Menurut Muzakkir, para badut yang berasi di persimpangan jalan bukan lagi menjadi aksi perorangan dengan dalih mencari nafkah. Melainkan sudah masuk kategori mengemis secara terselubung dan terorganisasi.

"Ini mengemis secara elegan. Mereka cuma begini-begini saja, sudah dapat hasil. Gimana tidak menggiurkan," ucap Muzakkir.

Dinsos Mataram mencatat terdapat sekitar 32 badut jalanan yang beroperasi di sejumlah titik simpang di wilayah tersebut. Termasuk di Simpang Selaparang, Simpang Sandubaya, hingga jalan-jalan protokol di Mataram.

"Memang ada yang mengelola, dan terstruktur. Ada koordinatornya di wilayah Petemon dan satu lagi di wilayah Bertais. Dan kebanyakan pemainnya didatangkan dari luar daerah, salah satunya dari Solo," terang Muzakkir.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads