Sejumlah retail modern di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai mengalami kekosongan stok beras lokal maupun premium. Kondisi ini diduga dipicu tingginya harga gabah di tingkat petani yang membuat produsen kesulitan menyesuaikan harga jual dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan pasokan beras di retail modern kini berkurang signifikan. Berdasarkan hasil koordinasi dengan pengusaha dan pengelola retail, pasokan beras dari 8-10 merek beras, kini hanya ada 3-4 merek di sejumlah rak retail.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nida, persoalan utama bukan terletak pada kelangkaan pasokan beras di pasaran, melainkan ketidaksesuaian biaya produksi dengan batasan HET. Harga gabah yang tinggi membuat produsen kesulitan menjual beras sesuai ketentuan pemerintah.
"Harga gabah kering saat ini berada di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram. Ketika diproses menjadi beras, harganya sudah menyentuh Rp 16 ribu per kilogram. Itu belum termasuk biaya pengemasan dan operasional," kata Nida, saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).
Sementara itu, HET beras premium ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasok produk mereka ke retail modern.
"Jelas ini tidak masuk di hitungan UMKM kita," sambungnya.
Nida menyebut banyak produsen akhirnya enggan memasukkan beras ke retail karena harus menekan harga jual. Sementara mereka juga perlu memperhitungkan biaya operasional dan margin keuntungan pihak retail.
"Retail juga butuh margin untuk biaya operasional mereka. Pelaku usaha beras yang tidak punya mesin penggilingan sendiri terpaksa menghentikan pasokan ke retail modern karena biaya operasionalnya tidak nutut," ungkap Nida.
Di sisi lain, untuk mencari solusi terkait permasalahan ini, Disdag Kota Mataram akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, untuk membahas formulasi penyesuaian harga serta regulasi HET.
"Kami sedang mencarikan solusi terbaik. Jangan sampai UMKM beras kita gulung tikar. Sementara masyarakat juga tetap bisa mendapatkan beras premium lokal di retail modern dengan harga yang terjangkau," tandasnya.