Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Pengamanan dan Deteksi Dini Kegiatan Revitalisasi Sekolah (Si-Pendekar) NTT. Aplikasi ini dibuat untuk memantau anggaran Rp 1,23 triliun untuk program tersebut.
Aplikasi pengawasan ini dilakukan langsung oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Roch Ari Wibowo bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) NTT.
"Hari ini saya selaku Kajati NTT beserta Pak Ifran dari BPMP dan Pak Ambros dari Dinas Pendidikan NTT resmi membuka kegiatan peluncuran aplikasi Si-Pendekar NTT," kata Roch Ari Wibowo, Senin (12/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adi menegaskan, aplikasi ini adalah bukti komitmen kejaksaan dalam mendukung keberhasilan program revitalisasi satuan pendidikan Tahun Anggaran 2026 yang merupakan Proyek Strategis Nasional.
"Ini adalah contoh bukti kejaksaan dalam rangka mendukung keberhasilan revitalisasi satuan pendidikan. Semua ini karena kepedulian kita bersama, kami selaku pihak pendamping menyediakan personel dan akhirnya kita sepakati peluncuran ini," terangnya.
Menurutnya pengawasan ekstra diperlukan karena anggaran yang dikelola untuk program strategis nasional (PSN) revitalisasi sekolah, sangat besar dan menyasar ribuan sekolah.
"Tujuannya untuk memantau. Kenapa harus dipantau karena kegiatan ini melibatkan 1.509 satuan sekolah, dengan anggaran yang lumayan besar yaitu Rp 1,23 triliun," tegasnya.
Menurut dia, anggaran yang tergolong besar jika tidak dilakukan pengawasan, maka akan sangat merugikan baik pemerintah maupun masyarakat di NTT.
"Kalau ini tidak dikawal dengan benar siapa yang rugi, pemerintah dan kita semua yang rugi. Oleh karena itu kita sepakat untuk menghadirkan sarana untuk melakukan pengawasan secara bersama-sama sehingga kegiatan ini bisa berjalan baik, tepat waktu dan tepat sasaran," tegas Kajati.
Lanjut dia, tujuan utama aplikasi Si-Pendekar adalah deteksi dini terhadap PSN revitalisasi sekolah. Hal ini sebagai upaya deteksi dini dalam pengawasan terhadap program revitalisasi sekolah di NTT dengan pagu anggaran yang mencapai Rp 1,23 triliun.
"Tujuan kita melakukan pengamanan proyek strategis nasional ini untuk memberikan deteksi dini apabila nantinya di lapangan terjadi hal-hal yang mungkin tidak sesuai. Pelanggaran sudah bisa dideteksi sedini mungkin, agar bisa berjalan dan berhasil dengan baik," jelasnya.
"Program revitalisasi ini merupakan program yang baru, dan tujuan kita untuk sampaikan kalau ada yang kurang pas ayo kita luruskan bersama-sama," tambahnya.
Disdikbud NTT Apresiasi Si-Pendekar
Sementara itu, Kepala Dinas Disdikbud NTT, Ambrosius Kodo mengapresiasi inovasi Kejati NTT tersebut. Dalam upaya mendukung pengerjaan program revitalisasi di NTT.
"Kita apresiasi terhadap inovasi yang diluncurkan oleh Bapak Kajati, dalam rangka memantau secara dini terkait dengan program strategis nasional melalui revitalisasi satuan pendidikan," kata Ambros.
Ia mengatakan, aplikasi Si-Pendekar dari Kejati NTT sangat membantu pemerintah dalam pendampingan pengawasan terhadap program revitalisasi sekolah.
"Kami sebagai pengguna merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini. Dan juga sebagai sarana bersama bapak-bapak dari kejaksaan, nanti melakukan pendampingan," ujarnya.
Ambros menegaskan, aplikasi ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk pencegahan.
"Apabila sedini mungkin ada hal yang bisa berakibat pada penyelewengan, kita bisa segera lakukan pencegahan sejak awal agar tujuan untuk revitalisasi itu bisa tercapai. Bukan soal siapa yang salah, tetapi tujuan daripada revitalisasi itu sarana prasarana di satuan pendidikan bisa lebih baik ke depannya," pungkasnya.
Untuk diketahui, Si-Pendekar NTT akan menjadi platform pengawasan bersama antara Kejaksaan, Dinas Pendidikan, BPMP dan sekolah penerima revitalisasi agar proyek Rp 1,23 triliun tersebut transparan dan akuntabel.