Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Makan Bergizi Gratis (MBG) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengumpulkan seluruh kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Para kepala SPPG dikumpulkan setelah ada peristiwa keracunan massal yang menimpa 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Jumat (11/9/2026).
Kepala Satgas Pengawasan MBG Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, mengatakan pertemuan itu memang sengaja dilakukan dan telah lama dijadwalkan. Namun, jadwal yang tepat tak kunjung ketemu.
"Alhamdulillah kami bisa lakukan pertemuan ini," kata Firman dalam sambutannya dalam rapat koordinasi di Ballroom Kantor Bupati Lombok Tengah, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Firman mengungkapkan posisi kepala SPPG merupakan jabatan strategis dalam pemenuhan gizi generasi bangsa. Ia yakin proses kerja lapangan telah sesuai dengan prosedur. Namun, karena adanya keteledoran sehingga menimbulkan masalah.
"Sekali lagi, ini tugas kita bersama, anda sedang melaksanakan tugas yang sangat amat mulia. Makanya kenapa bapak ibu itu harus semangat. Karena kita mau menyajikan makanan yang sehat, aman untuk dikonsumsi," ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Tengah itu.
Seharusnya, terang Firman, kepala SPPG bekerja dengan benar dan mampu berinovasi agar membuat para penerima manfaat (PM) selalu menunggu pembagian MBG. Ia tak mau makanan yang dibagikan di sekolah maupun di posyandu tak bisa dikonsumsi karena tidak layak.
"Kita mau agar bagaimana MBG itu dirindukan oleh penerima manfaat. Bukan yang baru datang baru dibawa pulang. Tetapi bagaimana bisa dirindukan dan dikonsumsi langsung oleh penerima manfaat," tegas Firman.
Firman menyampaikan dirinya secara langsung menanyakan orang tua korban saat kejadian keracunan massal itu. Secara umum warga paham MBG adalah program prioritas Presiden Prabowo Subianto sehingga seharusnya tak ada kejadian seperti itu.
"Saya tanya pada saat peristiwa kemarin sama orang tuanya, mereka bilang kalau bisa jangan ada lagi seperti ini. Karena mereka tau kalau program ini program yang bagus, sangat baik," bebernya.
Firman menuturkan Satgas Pengawasan MBG Lombok Tengah mencatat sebanyak enam kasus. Enam kasus itu terdiri atas lima perkara keracunan dan satu makanan berulat. Walhasil, keracunan mendominasi kasus MBG di Lombok Tengah. "(Korban) yang paling banyak kemarin, yang dirawat di empat puskesmas," ucapnya.
Firman mengakui kondisi pada saat itu memang sangat crowded, mengingat waktu kejadian menjelang salat Jumat. "Saat mereka mau pulang kan saat ada korban yang sudah mulai muntah, mual, dan pingsan. Sebagian dari mereka panik, nangis orang tuanya nangis, ambilan mobil polisi sehingga ceos," katanya.
Firman berpesan kepada kepala SPPG untuk memperbaiki komunikasi publik agar tak menimbulkan gejolak lanjutan seusai kasus keracunan. Ia meminta agar kepala SPPG mengakui kesalahan dan segera melakukan evaluasi.
"Harus kita akui bahwa kita lalai, ndak bisa kita membela diri. Justru itu salah karena masyarakat tidak butuh pembela. Yang dibutuhkan empati. Rendahkan hati, tundukkan diri, warga masyarakat itu sangat pemaaf. Tunjukkan empati, kepedulian. Kalau berani kunjungi korban, hadir di situ, jangan kita berkelit," tegas Firman.
Firman juga meminta kepada seluruh SPPG agar tak mengedepankan ego. Jika terdapat kesalahan, SPPG harus segera meminta maaf agar persoalan tak meluas dan tidak menyalahkan siapa pun.
"Minta maaf saja, akui salah, akui lalai. Apalagi kepala SPPG ini masih muda muda. Kepercayaan yang perlu kita jaga," tegas Firman.