Relawan gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Gregorius Agung Setyonugroho, meninggal dunia, Minggu (13/9/2026). Gregorius adalah arsitek yang memantau kerusakan bangunan atau rumah terdampak gempa bumi Flores.
Relawan dari Ikatan Arsitek Indonesia ini mengembuskan napas terakhirnya di lokasi tugas di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, NTT. Gregorius sudah tak bernyawa saat tiba di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo, Labuan Bajo, tadi sore.
"Pada pukul 16.20 Wita hari ini tiba di RSUD Komodo dalam kondisi death on arrival atau sudah meninggal dunia," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, Minggu malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arsitek berusia 44 tahun itu berasal dari Depok, Jawa Barat. Paulus mengungkapkan berdasarkan keterangan rekan Gregorius, dia tak sadarkan diri sebelum dibawa ke RSUD Ruteng. Gregorius juga disebut memiliki riwayat hipertensi.
Jenazah Gregorius saat ini disemayamkan di RSUD Komodo. Jenazahnya akan dibawa ke kampung halamannya, besok. "Jenazah sudah dilakukan perawatan dan berada di ruang pemulazaran jenazah," tandas Paulus.
Gregorius tercatat sebagai relawan kedua yang meninggal dunia saat menjalankan tugas kemanusiaan di Flores. Sebelumnya, relawan kemanusiaan asal Jakarta bernama Ahmad Zaki Ali (42) meninggal dunia saat menyalurkan bantuan kepada korban gempa di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, Jumat (21/8/2026).
Zaki meninggal diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan. Pendiri Yayasan Gerak Bareng itu dimakamkan di kampung halamannya.