detikBali

352 Siswa Keracunan di Lombok, Pemilik SPPG: Siapa Tahu Ada yang Sakit Mag

Terpopuler Koleksi Pilihan

352 Siswa Keracunan di Lombok, Pemilik SPPG: Siapa Tahu Ada yang Sakit Mag


Edi Suryansyah - detikBali

Tangkapan layar video keterangan Khaerudin selaku Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. Foto: (Instagram @fakta.indo)
Foto: Tangkapan layar video keterangan Khaerudin selaku Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. (Dok. Tangkapan layar IG@fakta.indo)
Lombok Tengah -

Khaerudin, Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu menyebut ada dugaan penyebab keracunan 352 siswa di Batukliang, pada Jumat (11/9/2026), lantaran tak sarapan di rumah dan mengalami maag (sakit lambung). Pernyataan Khaerudin itu viral di media sosla (medsos).

"Kadang kala anak-anak di rumah nggak dikasih makan dikasih sarapan. Akhirnya nanti sarapannya di dapur (sekolah). Ketika sampai di dapur (sekolah), siapa tahu ada yang mengalami mag. Sakit mag adik-adik kita. Seperti contoh yang sekarang yang masih sisa satu itu kan gejala sakit maag," katanya dalam video viral yang dikutip detikBali, Senin (13/9/2026).

Khaerudin menduga adanya gejala awal membuat murid ketika mengonsumsi MBG memperparah kondisi mereka. Ia menyampaikan bahwa para siswa sejatinya sangat menunggu-nunggu pembagian MBG sehingga tak jarang mereka sengaja tak sarapan di rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga dengan adanya makan bergizi ini, juga apa namanya, seperti mengharapkan makanan bisa di sekolahnya, tidak akan ada sarapan di rumah," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Khaerudin juga menjelaskan terkait dengan potensi penghentian sementara (suspend) operasional dapur pihaknya belum bisa bicara banyak. Mengingat hingga hari ini hasil uji laboratorium sampel makanan yang diamankan belum keluar.

"Sama ini nanti kan kaitan dengan di-suspend atau kaitan dengan apa, kita memang tetap menunggu hasil laboratorium," katanya.

Kharudin membeberkan seluruh proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman makanan telah dijalankan sesuai prosedur operasional standar (SOP). Hanya saja, persoalan terjadi karena adanya keterlambatan distribusi di sekolah.

"Tadi kan dari Dinas Kesehatan juga cek juga secara prosedur dicek bahwa ini hanya keterlambatan untuk dimakan," tegasnya.

Seandainya pun dapurnya harus dihentikan sementara, pihaknya akan legawa dan menerima kenyataan. Namun, hal itu tak wajar jika hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum keluar.

"Tapi ada ketidakwajaran sekarang gimana? Belum-belum. Hasilnya kan belum. Apa dia keracunan, apa dia sakit perut, apa-apa, belum," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, dr. Mamang Bagiansyah, belum merespons pertanyaan detikBali mengenai hasil uji laboratorium sampel MBG yang telah diamankan.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah meminta maaf atas keracunan yang menimpa ratusan siswa di Lombok Tengah. BGN juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penanganan para korban.

"Pertama-tama kami perlu menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini, permohonan maaf kepada adik adik, anak anak kita yang terdampak, termasuk para keluarga/wali murid, dan pihak sekolah," kata Kepala Regional (Kareg) BGN Nusa Tenggara Barat (NTB), Eko Prasetyo, Jumat.

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG Lombok Tengah memastikan 352 korban keracunan telah mendapatkan penanganan. Meski begitu, Satgas tersebut belum bisa menjelaskan secara detail penyebab keracunan.

"Kami belum bisa laporkan lebih banyak. Sebagian besar (siswa) sudah pulang, ini saya mau pastikan dulu berapa yang masih tersisa dan memastikan penanganan dulu," ujar Ketua Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, Jumat.

Terpisah, Ketua Satgas Program MBG NTB Fathul Gani menegaskan SPPG penyalur makanan kepada 352 siswa yang diduga keracunan akan disanksi. "Kalau melihat situasi, otomatis suspend," ujar Ketua Satgas Program MBG NTB Fathul Gani ditemui di kantor Gubernur NTB, Jumat.

Fathul mengatakan ratusan siswa yang diduga mengalami keracunan menu MBG tersebut sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Berdasarkan asesmen sementara, makanan yang dibagikan kepada para penerima manfaat tidak mencantumkan batas waktu makanan tersebut harus dikonsumsi.

"Di sana kan harus tertera kapan harus dikonsumsi jam berapa? Jadi di sini tidak ada yang saling menyalahkan," ujar Fathul.

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikBali, ratusan siswa di Lombok Tengah diduga keracunan setelah menyantap menu MBG berisi kulit kebab, buah salak, ayam suwir, nugget, salad selada, dan mentimun. Seluruh sampel makanan tersebut telah diamankan polisi.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads