detikBali

PDAM dan Petani di Manggarai Barat Rebutan Air Sungai

Terpopuler Koleksi Pilihan

PDAM dan Petani di Manggarai Barat Rebutan Air Sungai


Sui Suadnyana, Ambrosius Ardin - detikBali

Bendungan untuk mengalirkan air dari Sungai Wae Mese  ke tempat penampungan air baku milik Perumda Air Minum Wae Mbeliling tertutup karung. (Dok. Perumda Air Minum Wae Mbeliling)
Foto: Bendungan untuk mengalirkan air dari Sungai Wae Mese ke tempat penampungan air baku milik Perumda Air Minum Wae Mbeliling tertutup karung. (Dok. Perumda Air Minum Wae Mbeliling)
Manggarai Barat -

Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Wae Mbeliling dan petani rebutan dalam memanfaatkan air Sungai Wae Mese di Desa Watu Nggelek, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Debit air sungai yang berkurang akibat musim kemarau berkepanjangan menjadi penyebab konflik itu terjadi.

Perumda Air Minum Wae Mbeliling memanfaatkan aliran Sungai Wae Mese menjadi sumber baku untuk melayani kebutuhan air bersih di Labuan Bajo. Sementara petani menggunakan air yang sama untuk irigasi pertanian mereka.

"Sungai Wae Mese merupakan sumber daya air yang memiliki fungsi penting bagi masyarakat, baik untuk kebutuhan air bersih maupun kebutuhan pertanian. Dalam kondisi debit air yang terbatas, terjadi persaingan pemanfaatan air antara kedua kepentingan tersebut," kata Direktur Perumda Air Minum Wae Mbeliling, Ponsianus Mato, Sabtu (12/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan di lapangan, ungkap Ponsi, ada yang menutup bendungan yang mengalirkan air dari Sungai Wae Mese ke tempat penampungan air baku milik Perumda Air Minum Wae Mbeliling. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya aliran air menuju intake water treatment plant (WTP) 1 dan WTP2, tempat penampungan air baku sebelum diproses menjadi air bersih.

ADVERTISEMENT

Mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Manggarai Barat ini memahami kebutuhan air untuk pertanian merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Namun, dalam kondisi kekeringan yang panjang dan keterbatasan debit air, diperlukan pengaturan, pembagian, dan pengawasan pemanfaatan air yang adil, bijaksana, dan terkoordinasi. "Sehingga kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap dapat dipenuhi," tegas Ponsi.

Musim kemarau yang berkepanjangan saat ini, kata Ponsi, menyebabkan gangguan pada operasional pelayanan air minum akibat menurunnya debit sumber air baku Sungai Wae Mese. Menurut Ponsi, penurunan debit air tersebut berdampak langsung terhadap proses pengambilan air baku menuju WTP1 dan WTP 2. Situasi ini menyebabkan pada kondisi tertentu Perumda Air Minum Wae Mbeliling mengalami keterbatasan dalam memproduksi dan mendistribusikan air kepada pelanggan.

"Iya (pelanggan air bersih di Labuan Bajo terdampak) karena Labuan Bajo sumbernya dari Wae Mese 1 dan 2," jelas Ponsi.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads