Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Cahya Samudra, menyebut tingkat kunjungan ke destinasi unggulan di Mataram mengalami penurunan. Cahya menduga warga Mataram lebih memilih nongkrong di kafe yang kini menjamur ketimbang berwisata ke sejumlah destinasi.
"Tantangannya memang tongkrongan-tongkrongan ini semakin banyak di Kota Mataram. Positifnya banyak titik spot (kafe) baru, tapi ini membuat pengunjung terserap dan terbagi ke beberapa lokasi," kata Cahya, saat diwawancarai, Kamis (3/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Cahya menilai minimnya kunjungan juga disebabkan adanya efisiensi anggaran yang berdampak pada penyelenggaraan event pariwisata di Mataram. Kegiatan seperti Festival Reggae, Sunrise to Sunset, hingga Festival Duren yang digelar tahun-tahun sebelumnya kini dipastikan absen.
"Tahun ini hanya ada peresean saja," imbuhnya.
Menurut Cahya, menurunnya tingkat kunjungan dan belum optimalnya keterisian lapak pedagang berdampak pada realisasi retribusi sektor pariwisata di Mataram. Dari target retribusi pariwisata sebesar Rp 800 juta, Dispar Mataram mencatat realisasinya masih di bawah 50 persen.
"Capaian (retribusi) sampai Agustus masih sekitar 30 persen. Kunjungan berkurang dan pedagang belum penuh mengisi lapak. Sementara target dihitung berdasarkan kapasitas total lapak," ungkapnya.
Meski begitu, Dispar Mataram terus menggenjot retribusi pariwisata dengan berbagai program. Termasuk pembenahan fasilitas dan kolam hias di Taman Loang Baloq, rehabilitasi lapak pedagang, hingga penguatan event unggulan seperti peresean, Ampenan Heritage Walk, serta Friday Relax.