Jelang Menpar Datang, Warga Adat Sade Bangun Tenda di Lokasi Kebakaran

Sui Suadnyana, Edi Suryansyah - detikBali
Kamis, 27 Agu 2026 13:54 WIB
Foto: Warga Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, membangun tenda bertiang bambu di bekas rumah terbakar. (Foto: (Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Warga korban kebakaran rumah di Kampung Adat Desa Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai memasang tenda di fondasi bekas rumahnya. Pemasangan itu menjelang kedatangan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana.

Pantauan detikBali sekitar pukul 13.30 Wita, sejumlah tenda tampak sudah terpasang. Mereka membangun tenda menggunakan terpal dan bertiang bambu. Tenda itu dipasang di sejumlah sisa fondasi rumah mereka.

Hal itu sontak menjadi sorotan karena di hari yang sama Desa Sade direncanakan akan dikunjungi Menpar Widiyanti Putri. Bahkan, sejumlah stafnya terlihat sudah di lokasi. Padahal, warga telah disiapkan fasilitas pengungsian sementara yang lebih layak, yakni di Edutel milik SMKN 1 Pujut dan di Rusunawa.

Salah seorang warga, Neman, mengakui langkah ini merupakan inisiatif pribadi mereka karena sebagai bentuk keinginan agar segera kembali ke rumahnya. Menurut Neman, pembangunan tenda itu sempat dilarang pemerintah setempat.

"Ini untuk sementara aja. Ini inisiatif sendiri. Di stop. Kalau kita bangun kayak-kayak gini di stop. Orang sini juga (yang stop)," tutur Neman.

Warga lain, Nurul, mengungkapkan keberadaan tenda bukan semata untuk tempat tinggal permanen, melainkan sebagai tempat berteduh saat mereka membersihkan puing-puing rumah di siang hari.

"Ada ada di sana (rusunawa), tetapi ini kan yang mau tinggal sini untuk jaga-jaga gitu, kadang-kadang mereka mau nginap di sini makanya dia bangun tenda dari terpal," tegas Nurul.

Nurul menegaskan bambu-bambu yang terlihat bukan dimaksudkan untuk membangun kembali rumah yang permanen, melainkan hanya sebagai penyangga terpal tempat sementara. Keinginan warga untuk segera membangun juga didorong oleh kepercayaan adat mengenai waktu yang tepat untuk mendirikan bangunan, yakni di bulan Maulid.

"Ini bukan bangun rumah permanen, ini untuk berteduh aja itu dari sinar matahari kan panas kan gini lagi bersih-bersih terus kita diam-diam di sini kan tempat berteduh," tegas Nurul.

Jali, warga lain, menjelaskan tenda bambu ini hanyalah solusi sesaat sembari menunggu bantuan material dari pemerintah turun. Pembangunan dapat dimulai pada bulan yang dianggap baik menurut keyakinan masyarakat setempat. Keterikatan emosional warga dengan tanah leluhur mereka menjadi alasan utama mengapa fasilitas Rusunawa yang modern tidak sepenuhnya diminati.

"Biar lebih baik di sini aja, Mas. Karena mungkin rumah nyamannya di sini. Walaupun bagaimanapun keadaannya, harus tetap kita di sini," tegas Jali.

Staf Ahli Bupati Lombok Tengah, Lalu Sungkul, menyayangkan hal tersebut. Ia tak ingin kawasan Kampung Adat Sade yang terdampak kebakaran justru menjadi lokasi wisata bencana. Karena itu, pemerintah mengarahkan warga untuk sementara menempati tempat yang lebih aman dan layak.

"Kami tidak mau ini menjadi wisata bencana. Nah, itu bahayanya. Jadi kenapa kita harus larang dahulu masalah bencana dan segala itu, kan mereka tidak ada urgensinya," kata Sungkul.

Menurut Sungkul, pemerintah telah menyiapkan sejumlah opsi tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya terdampak kebakaran. Salah satunya Edutel yang dapat menampung warga, kapasitas sekitar 15 kamar. Namun, pilihan tersebut tetap disesuaikan dengan kondisi dan kemauan masing-masing warga.



Simak Video "Video: Kondisi Pengungsian Terkini di NTT Pasca Gempa"

(hsa/hsa)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork