Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng menarik seluruh mahasiswa yang sedang menjalankan kuliah kerja nyata (KKN) Tematik Tahun 2026 imbas gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Mahasiswa KKN itu diarahkan kembali ke tempat yang lebih aman.
Unika St Paulus Ruteng berada di Ruteng, Manggarai, NTT. Manggarai salah satu wilayah terdampak parah gempa bumi di Flores tersebut. Gedung Unika St Paulus Ruteng juga mengalami kerusakan berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rektor Unika St Paulus Ruteng Agustinus Manfred Habur mengatakan keputusan menarik seluruh mahasiswa KKN tersebut diambil menyusul dampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Flores. Termasuk adanya mahasiswa kampus tersebut yang menjadi korban akibat reruntuhan rumah warga tempat mereka menginap selama menjalankan KKN.
"Keselamatan mahasiswa merupakan prioritas utama Universitas. Kami menarik mahasiswa dari lokasi KKN bukan berarti Unika menarik diri dari masyarakat. Kami menyelamatkan mahasiswa kami, tetapi kami tidak menarik kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan kami terhadap masyarakat yang sedang mengalami bencana," tegas Manfred, Selasa (18/8/2026).
Ia menjelaskan penarikan mahasiswa dilakukan untuk memastikan seluruh mahasiswa berada dalam kondisi aman dan tidak terpapar risiko akibat gempa susulan maupun bangunan yang mengalami kerusakan.
Manfred minta dosen pembimbing lapangan (DPL) bersama panitia KKN memastikan seluruh mahasiswa terdata, memperoleh tempat yang aman. "Serta mendapatkan pendampingan apabila mengalami luka, kehilangan anggota keluarga, kerusakan tempat tinggal, maupun dampak psikologis akibat bencana," tegas dia.
Namun demikian, Universitas tetap membuka ruang bagi mahasiswa yang dalam kondisi aman dan secara sukarela ingin menjadi relawan kemanusiaan. Mahasiswa yang bersedia menjadi relawan akan ditempatkan secara terkoordinasi dan bukan lagi sebagai bagian dari kewajiban KKN.
Mereka akan membantu masyarakat sesuai kompetensi, kebutuhan lapangan, dan arahan pemerintah daerah serta lembaga penanggulangan bencana.
"Kami tidak ingin mahasiswa datang ke lokasi bencana tanpa koordinasi dan justru menambah risiko. Karena itu, kegiatan kerelawanan harus aman, terorganisasi, sesuai kompetensi, dan berada dalam koordinasi dengan pemerintah daerah," kata Manfred.
Ia menegaskan penarikan mahasiswa tidak berarti kampus tersebut menghentikan tanggung jawab akademik maupun pengabdian kepada masyarakat. Setelah kondisi darurat memungkinkan, Universitas akan mengevaluasi dan menyiapkan skema keberlanjutan KKN Tematik, termasuk kemungkinan mengembangkan program KKN tanggap, pemulihan dan ketangguhan masyarakat pascagempa Flores.
"Dalam situasi bencana, pendidikan tidak boleh kehilangan relevansinya. Mahasiswa belajar bukan hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk membantu manusia. Namun, bantuan itu harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab," jelas Manfred.
Unika St Paulus Ruteng juga akan memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang menjadi korban atau terdampak langsung bencana agar tidak mengalami kerugian akademik akibat kondisi yang berada di luar kendali mereka.
Universitas tersebut memandang bencana gempa Flores bukan hanya sebagai persoalan kemanusiaan, tetapi juga sebagai panggilan bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, solidaritas dan pengabdian secara nyata.
"Kami ingin Unika hadir bukan hanya ketika keadaan normal. Justru dalam situasi sulit seperti sekarang, kampus harus menunjukkan bahwa ilmu, iman dan solidaritas dapat menjadi kekuatan untuk membantu masyarakat bangkit kembali," tegas Manfred.
Bentuk Posko Tanggap Darurat
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, kata Manfred, Unika St Paulus juga segera membentuk posko tanggap darurat. Posko ini akan menjadi pusat koordinasi Universitas dalam melakukan pendataan mahasiswa terdampak, mengorganisasi relawan, memetakan kebutuhan masyarakat, serta mengoordinasikan bantuan dan pelayanan kemanusiaan.
"Unika akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BPBD, serta lembaga dan pihak terkait untuk mengetahui lokasi-lokasi yang membutuhkan dukungan dan menempatkan relawan sesuai kebutuhan," jelas dia.
Relawan dari kampus tersebut akan diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, antara lain pendampingan anak dan pendidikan, promosi kesehatan, dukungan psikososial, pendataan masyarakat terdampak, distribusi bantuan, serta pendampingan kelompok rentan.
"Untuk pekerjaan yang membutuhkan kompetensi dan perlindungan khusus, Universitas tidak akan menempatkan mahasiswa pada kegiatan berisiko tinggi seperti memasuki bangunan rusak atau melakukan operasi pencarian dan penyelamatan," tegas Manfred.