detikBali

Komen 'Ruang Jenazah Kosong' ke Pasien BPJS, Dokter RSUD Ruteng Minta Maaf

Terpopuler Koleksi Pilihan

Komen 'Ruang Jenazah Kosong' ke Pasien BPJS, Dokter RSUD Ruteng Minta Maaf


Ambrosius Ardin - detikBali

Beni Christian Sihombing, dokter RSUD Ruteng yang berkomentar jahat di Threads @yurizaltrich. (Tangkapan layar @bennychrstn)
Foto: Beni Christian Sihombing, dokter RSUD Ruteng yang berkomentar jahat di Threads @yurizaltrich. (Tangkapan layar @bennychrstn)
Manggarai -

Sebuah utas di Threads @yurizaltrich yang mengungkap dirinya tak kunjung mendapat layanan ruangan di rumah sakit meski telah menunggu delapan jam viral. Viralnya utas tersebut setelah komentar sejumlah dokter dan tenaga kesehatan (nakes) dinilai tidak berempati bahkan bullying.

"8 jam belum dapat ruangan. Ga mau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," katanya di akun treads tersebut yang diunggah pada 23 Juli 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sembilan hari setelah unggahan tersebut dibuat, pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan diketahui telah meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Komentar nirempati dari dokter dan nakes lantas kembali diungkit dan mendapat kecaman dari warganet.

ADVERTISEMENT

Salah satu komentar yang banyak disorot berasal dari dokter Beni Christian Sihombing melalui akun Threads @bennychrstn. Dokter Beni bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam kolom komentar, dokter Beni menanggapi keluhan Yurizal dengan menyinggung keterbatasan ruang perawatan di rumah sakit, termasuk menyebut ruang jenazah sebagai tempat yang selalu tersedia.

"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," komentar dokter Beni.

Setelah dirujak warganet, Beni menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya. Ia mengaku menyesali unggahan tersebut dan turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di Threads. Saya juga menyampaikan turut berdukacita kepada pemilik utas yaitu almarhum Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan," kata Beni.

Beni juga mengaku siap menerima konsekuensinya, baik proses hukum maupun sanksi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

"Saya bertanggung jawab penuh atas segala tulisan yang saya buat. Dan jika pun nanti ada proses hukum, saya akan mengikutinya tanpa pembelaan ataupun menyewa pengacara, itu tidak, tidak akan. Dan saya juga siap menerima konsekuensi dari Rumah Sakit, dari IDI, MKEK, pengadilan ataupun instansi lain," lanjut dia.

Selain itu, Beni menegaskan tidak akan mengunci maupun membatasi akses ke akun media sosialnya. Ia mengaku akan menerima seluruh kritik yang disampaikan warganet sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahannya.

"Saya akan membaca seluruh komentar-komentar, karena memang saya melakukan kesalahan dan layak untuk hal tersebut. Tidak ada klarifikasi, saya memohon maaf karena telah membuat keributan ini. Dan saya juga memohon maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman sejawat saya, dan semua dokter-dokter yang memberikan edukasi di media sosial karena sudah merusak usaha-usaha tersebut," ujar Beni.



(nor/nor)









Hide Ads
LIVE