detikBali
Round Up

Bantahan Undana Kupang soal Mahasiswi Depresi 12 Kali Batal Sidang

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Bantahan Undana Kupang soal Mahasiswi Depresi 12 Kali Batal Sidang


Tim detikBali - detikBali

Tim Investigasi Undana saat konferensi pers persoalan Jessica Sofia Tunardjo, Rabu (5/8/2026).
Foto: Tim Investigasi Undana saat konferensi pers persoalan Jessica Sofia Tunardjo, Rabu (5/8/2026). (Dok. Humas Undana Kupang)
Kupang -

Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang membantah bahwa mahasiswi Jessica Sofia Tunardjo dalam kondisi depresi. Dalam narasi yang beredar luas di media sosial (medsos), mahasiswi semester 10 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) itu disebut depresi setelah 12 kali batal sidang ujian skripsi.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, mahasiswa kami tidak mengalami depresi, yang bersangkutan mengalami kelelahan dan kecemasan yang berdampak pada kondisi fisiknya," kata Wakil Rektor IV Undana, Philiphi de Rozari, di Kupang, Rabu (5/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Philiphi memastikan Jessica sudah pulang ke rumah dan dalam masa pemulihan. Ia berharap pemulihan Jessica berjalan baik sehingga dapat melanjutkan studi dan meraih cita-citanya.

Philipi juga membantah Jessica batal ujian skripsi sebanyak 12 kali. Dia menyatakan kabar itu adalah informasi palsu alias hoaks.

ADVERTISEMENT

"Isu pembatalan 12 kali ujian skripsi itu tidak benar. Yang terjadi adalah penyesuaian jadwal untuk seminar proposal dan seminar hasil, bukan ujian skripsi," ujar Philiphi.

Meski menstempel kabar itu sebagai hoaks, Philiphi menegaskan Undana tidak menempuh jalur hukum. Ia hanya berharap publik tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi agar proses akademik dan pemulihan mahasiswa dapat berjalan dengan baik.

"Postingan itu tidak benar dan hoaks, bukan mahasiswa kami yang posting. Kami tidak akan melakukan upaya hukum karena mereka juga saudara kita," jelas Philiphi.

Philiphi menjelaskan keterlambatan tahapan tugas akhir adalah hal wajar dalam sistem akademik. Prosesnya melibatkan pembimbing, penguji, dan mahasiswa.

"Penjadwalan itu melibatkan pembimbing, penguji, dan mahasiswa. Kadang penguji tidak bisa, kadang pembimbing yang tidak bisa, bahkan mahasiswa juga bisa berhalangan karena kondisi kesehatan. Jadi ini adalah akumulasi dari berbagai faktor, bukan semata-mata kesalahan satu pihak," terang Philiphi.

Pria bergelar profesor itu menyebut komunikasi antara mahasiswa dan dosen selama ini berjalan sangat baik. Philiphi mengeklaim hampir semua pertanyaan dari mahasiswa selalu dijawab dengan baik oleh penguji.

Sebelumnya, pada Senin (3/8/2026) lalu, Jessica masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Wirasakti Kupang. Hari itu, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengunjungi Jessica. Menurutnya, kondisi Jessica menunjukkan perkembangan yang baik.

"Tadi saya menjenguk kondisi anak kita, Jessica. Kondisinya sudah semakin baik, semakin ceria, dan semakin sehat. Saya yakin dalam waktu dekat sudah 100 persen sehat. Secara fisik maupun psikis saya melihat sudah ada kemajuan dan," kata Johni, Senin.

Johni mengaku sudah mendengar langsung cerita yang dialami Jessica. "Tadi saya mendengar cerita versi dari Jessica dan kita tidak tahu bagaimana versi dari dosennya. Sehingga kita perlu bijak memandang dan menyikapi kondisi ini," imbuh purnawirawan Polri itu.

Johni menilai peristiwa yang dialami Jessica menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Melainkan juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

"Anak didik harus diperlakukan seperti anak sendiri. Mereka harus belajar dengan rasa aman, nyaman, dan penuh sukacita, bukan dalam tekanan ataupun ketakutan. Dengan demikian, mereka dapat bertumbuh menjadi generasi yang sehat, berkarakter, dan unggul," terang Johni.

Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Wirasakti Kupang, Letkol Ckm dr Aan Riswandi, menjelaskan Jessica saat pertama kali datang ke rumah sakit mengeluhkan pusing atau vertigo yang disertai mual. Menurutnya, kondisi Jessica berangsur membaik setelah mendapatkan penanganan medis.

"Keluhan vertigo yang dialami pasien sudah jauh berkurang. Kondisi umum pasien juga terus membaik. Apabila perkembangannya tetap stabil, diperkirakan dalam satu hingga dua hari ke depan pasien sudah dapat kembali ke rumah untuk melanjutkan pemulihan," ujar Aan.

"Selama menjalani perawatan, Jessica ditempatkan di ruang rawat VIP yang kondusif agar proses pemulihan berlangsung lebih nyaman dan optimal," imbuhnya.

Video saat Jessica histeris hingga tergeletak di lantai sempat viral di media sosial. Sebelum itu, Jessica disebut sudah berkali-kali mengalami pembatalan oleh dosen yang sama. Dinarasikan, Jessica 12 kali batal menjalani ujian proposal.

Berdasarkan video berdurasi 31 detik yang beredar, sejumlah perempuan berusaha menenangkan Jessica. Namun, dia terus histeris.

Narasi yang beredar di media sosial juga menyebut dosen penguji bernama Serlie KA Litik tiba-tiba menghubungi Jessica. Dosen itu, menurut narasi yang beredar, meminta agar Jessica mengganti dosen penguji saat jadwal ujian hasil sudah di depan mata.



(hsa/nor)











Hide Ads