GS (21), sopir truk yang diduga dibakar oleh bosnya di Karangasem, kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. dr. IGNG Ngoerah Denpasar. GS mengalami luka bakar parah seluas 68 persen pada tubuhnya.
Kepala ICU Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, Dr. dr. I Putu Kurniyanta, mengatakan GS tiba di RSUP Prof Ngoerah pada Kamis (18/9/2026) sekitar pukul 19.00 Wita setelah sebelumnya mendapat penanganan di Puskesmas Rendang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin rawat luka kesuruhan tubuh, yang mana cukup luas juga luas luka bakarnya, kurang lebih sekitar 68 persen," ujarnya kepada awak media, Selasa (22/9/2026).
Menurut Kurniyanta, kondisi GS pada saat tiba masih sadar dan bisa berkomunikasi. Sedangkan, bagian tubuh yang mengalami luka bakar paling berat berada di bagian dada depan atau toraks. Luka tersebut juga melingkar hingga ke bagian belakang tubuh.
"Untuk pasien ini memang pada saat datang memang masih bisa dia komunikasi, cuma saya melihat ada ada luka bakar di daerah dada yang hampir melingkar ke belakang," jelasnya.
Dokter spesialis bedah plastik RSUP Prof Ngoerah, Dr. dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid mengatakan pakaian korban bahkan masih menempel di kulitnya. Luka bakar GS diperkirakan berkisar antara derajat 2B hingga derajat 3.
"Mungkin kalau dilihat dari gambaran klinis kita melakukan perawatan luka kemarin itu bajunya tuh kayak sepertinya masih nempel pada luka bakar, sehingga luka bakar itu cukup dalam dari derajat 2B sampai derajat 3," imbuhnya.
Roy mengatakan tim medis telah melakukan pencucian dan pembersihan luka dengan tindakan debridement. Tim dokter juga memutuskan untuk tetap mempertahankan selang napas dan membantu pernapasan GS menggunakan ventilator karena dicurigai GS menghirup uap panas.
"Kami sudah melakukan pencucian luka, pembersihan luka dengan melakukan debridement luka, dan setelah melakukan perawatan luka, dari sejawat anestesi kita diskusi untuk tetap mempertahankan selang napas untuk kita bantu dengan mesin ventilator," jelasnya.
GS sebelumnya direncanakan untuk menjalani proses weaning atau pelepasan secara bertahap dari bantuan ventilator. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir, masih ditemukan kondisi pada paru-paru yang membuat proses tersebut belum dapat dilakukan.
"Cuman dari hasil foto terakhir didapatkan adanya infeksi, mungkin bukan infeksi, mungkin ada masih ada sisa-sisa sisa-sisa jelaga atau asap yang masuk ke dalam paru-paru, dan itu masih butuh waktu untuk bisa pasien itu bisa di-weaning," ucap Roy.
Karena itu, untuk sementara tim medis masih mempertahankan intubasi dan bantuan mesin ventilator. Kondisi GS akan kembali dievaluasi dalam satu hingga dua hari ke depan.
Mengenai tindakan operasi, Roy mengatakan belum dapat memastikan berapa kali tindakan operasi yang akan dibutuhkan GS. Hal tersebut bergantung pada kondisi luka dan perkembangan pasien selama menjalani perawatan.
"Ini nggak bisa kita perkirakan, tergantung kondisi juga. Mudah-mudahan pasien nggak ada infeksi pada pada hari ke-7 hari ke-8. Kalau memang kita bisa melalui sampai 2 minggu hari ke-14, bisa 10 sampai 12 kali tindakan operasi," jelasnya.
Menurut Roy, luasnya luka bakar juga membuat proses pengambilan kulit untuk menutup luka tidak dapat dilakukan sekaligus.
Roy juga menjelaskan bahwa luas luka bakar di atas 40 persen dan adanya dugaan trauma inhalasi menjadi faktor yang meningkatkan risiko kematian pada pasien.
"Luka bakar yang lebih dari 40 persen ditambah dengan adanya trauma inhalasi, itu risiko kematiannya lebih tinggi 300 kali lipat, gitu secara teori, secara jurnal," tutupnya.
Sebelumnya, GS diduga dibakar hidup-hidup oleh bosnya, CP (37), di rumah korban di Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, pada Jumat (18/9/2026). Peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan uang setoran. CP kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polres Karangasem.