detikBali

Duduk Perkara Pencurian Ternak di Sumba Barat Berujung Pelaku Tewas Ditembak

Terpopuler Koleksi Pilihan

Duduk Perkara Pencurian Ternak di Sumba Barat Berujung Pelaku Tewas Ditembak


Yufengki Bria - detikBali

Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra saat diwawancarai di kantornya, Rabu (16/8/2026).
Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra saat diwawancarai di kantornya, Rabu (16/8/2026). (Foto: Yufengki Bria/detikBali)
Sumba Barat -

Kasus pencurian ternak di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berujung tewasnya seorang pelaku setelah ditembak polisi. Penembakan itu terjadi saat Jowa Tana alias JT (39) menyerang petugas menggunakan parang ketika hendak ditangkap.

Penembakan Jowa kemudian memicu reaksi massa. Jenazahnya digotong dari Rumah Sakit Kristen Lende Moripa ke Mapolres Sumba Barat sebagai bentuk protes hingga berujung penyerangan.

Polda NTT menyebut Jowa merupakan satu dari empat pelaku yang ditangkap dalam pengungkapan kasus pencurian ternak kuda dan kerbau di Sumba Barat. Tiga pelaku lainnya ialah Agustinus Saki Beku Lingu alias ASBL (46), Katanga Yani alias KY (35), dan Yeremias Kereng Mau alias YKM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka merupakan sindikat tindak pidana pencurian ternak dengan kekerasan (curas) serta pencurian dengan pemberatan (curat) yang selama ini meresahkan warga Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah," ujar Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra di kantornya, Rabu (16/8/2026).

ADVERTISEMENT

Henry menjelaskan pengungkapan kasus itu bermula saat polisi melakukan penyelidikan intensif terhadap tiga laporan polisi (LP) terkait aksi pencurian ternak disertai kekerasan di Sumba Barat dan Sumba Tengah pada 2022 hingga 2026.

Menurut Henry, salah satu aksi paling sadis terjadi di Kampung Waini Haingu, Desa Wairasa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Sumba Tengah, pada 21 Februari 2026.

Kala itu, para pelaku membacok pemilik ternak, yakni DDH, secara membabi buta hingga tewas mengenaskan. DDH mengalami luka robek di belakang kepala sepanjang 6-8 sentimeter (cm) hingga mengenai tulang, serta luka sabetan parang memanjang di bagian punggung sepanjang 48 cm.

Jowa sendiri pernah terlibat dalam kasus pencurian dengan pemberatan pada 10 Mei 2022. Sementara Agustinus dan Yeremias terlibat dalam kasus pencurian dengan kekerasan pada 5 September 2026 di Desa Tana Rara, Kecamatan Loli.

Setelah melalui serangkaian penyelidikan, polisi akhirnya menangkap Agustinus Saki Beku Lingu dan Katanga Yani di Kampung Praidita, Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana Selatan, Sumba Tengah, Selasa (15/9/2026).

Polisi kemudian menangkap Yeremias Kereng Mau di Kampung Waikarar, Desa Katikuloku, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat, Selasa (15/9/2026).

Berdasarkan hasil interogasi, polisi mendapatkan informasi mengenai keterlibatan Jowa Tana. Polisi kemudian mendatangi rumahnya di Kampung Wai Makapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, Sumba Barat, Selasa (15/9/2026).

Namun, saat hendak ditangkap, Jowa melakukan perlawanan dan menyerang polisi dengan sebilah parang. Polisi lantas memberikan tembakan peringatan ke udara sebanyak tiga kali, tetapi tak dihiraukan.

Saat berupaya melarikan diri, polisi berupaya melumpuhkannya. Nahas, peluru menyasar bagian bahunya setelah Jowa terjatuh.

Setelah tertembak, polisi membawa Jowa ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa sekitar pukul 10.00 Wita untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 10.20 Wita.

"Petugas juga menyita satu ekor kerbau jantan hasil curian sebagai barang bukti yang ditemukan di rumah tersangka ASBL dan kini diamankan di Polsek Loli," jelas Henry.

Penembakan yang menewaskan Jowa memicu reaksi massa. Jenazah Jowa digotong dari Rumah Sakit Kristen Lende Moripa ke Makopolres Sumba Barat sebagai aksi protes.

"Sehingga terjadinya penyerangan dari masyarakat di Makopolres Sumba Barat," pungkas Henry.

Diberitakan sebelumnya, massa menggeruduk Polres Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (15/9). Selain itu, massa juga membakar mobil dinas Polri. Aksi tersebut dilakukan seusai polisi menembak mati seorang pelaku pencurian ternak pagi tadi.

Berdasarkan sejumlah video viral yang beredar luas di media sosial, massa terlihat membawa peti jenazah ke Polres Sumba Barat sebagai bentuk protes atas insiden penembakan tersebut.

Mereka terlihat membawa parang lalu merusak fasilitas di Polres Sumba Barat. Sejumlah personel terlihat bersiaga membawa senjata laras panjang untuk mengamankan lokasi.

Tak berselang lama, bunyi letusan diduga senjata api terdengar dari dalam Polres Sumba Barat. Massa yang panik langsung kabur berhamburan dari lokasi menuju halaman Polres Sumba Barat.

"Iya itu (berawal) dari tindakan keras terukur terhadap pelaku pencurian ternak dan kekerasan," ujar Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra daat dihubungi detikBali, Selasa malam.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads