detikBali

Enam Ruang Kelas SMAN 1 Gunungsari Disegel gegara Rawan Ambruk

Terpopuler Koleksi Pilihan

Enam Ruang Kelas SMAN 1 Gunungsari Disegel gegara Rawan Ambruk


Ahmad Viqi - detikBali

Enam ruang kelas SMAN 1 Gunungsari disegel karena dikhawatirkan akan ambruk. (Foto: Dinas PUPRPKP NTB).
Foto: Enam ruang kelas SMAN 1 Gunungsari disegel karena dikhawatirkan akan ambruk. (Foto: Dinas PUPRPKP NTB).
Mataram -

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyegel enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Penyegelan dilakukan karena kondisi bangunan dinilai tidak lagi layak digunakan dan berpotensi ambruk sehingga membahayakan keselamatan siswa dan guru.

Kepala Dinas PUPRKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan langkah tersebut merupakan upaya mitigasi untuk mencegah terulangnya insiden ambruknya bangunan sekolah, seperti yang sebelumnya terjadi di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar Lombok Barat beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami proteksi dini untuk mengantisipasi, jangan sampai digunakan dan tiba-tiba ambruk. Habis itu mencederai dan membuat ada korban," kata Wijaya di Lombok Tengah, Senin (27/7/2026).

Meski sejumlah ruangan disegel, Wijaya memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa SMAN 1 Gunungsari tetap berjalan. Pemerintah NTB telah menyiapkan tenda darurat dan memanfaatkan ruangan lain yang dinilai aman untuk sementara waktu.

ADVERTISEMENT

"Ya, bisa pakai tenda, bisa pakai ruang apa gitu lah sementara. Memang prihatin sih," ujarnya.

Wijaya mengungkapkan, temuan enam kelas tak layak di SMAN 1 Gunungsari merupakan hasil pengecekan tim di lapangan. Rata-rata bangunan sekolah yang sudah berumur dua dekade mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural sehingga berbahaya untuk digunakan.

"Saya tidak merekomendasikan untuk digunakan, nanti ambruk. Tidak ada korban saja kami kaget, apalagi ada korban," tegasnya.

Wijaya mengatakan keterbatasan personel untuk mengecek seluruh sekolah di NTB satu per satu, Dinas PUPRKP meminta pihak sekolah yang bangunannya sudah tua untuk melakukan asesmen mandiri secara visual.

"Kami minta cek kondisi fisik bangunan tua, terutama jika ada gejala lendutan atau retakan. Jika ditemukan potensi bahaya, pihak sekolah wajib melapor ke Dinas PUPRKP," ujarnya.

Setelah dilaporkan, Wijaya berujar, Tim penilai Dinas PUPRKP akan diturunkan ke lokasi untuk memastikan kelaikan fisik bangunan setelah mendapat laporan awal.

"Jadi kami coba untuk assessment dulu. Sekolah-sekolahnya kami minta melakukan assessment sendiri, melihat secara visual sendiri. Kalau ada kejadian-kejadian lendutan, apa kayak gitu kan, nah mungkin itu perlu diwaspadai," pungkasnya.



(nor/nor)









Hide Ads