Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkap penyebab ambruknya atap dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan di SMAN 7 Mataram yang mengakibatkan empat siswa mengalami luka ringan dan syok pada Selasa (19/5/2026). Identifikasi awal menunjukkan bangunan tersebut telah berusia lebih dari 20 tahun.
"Hasil identifikasi awal kami memang kondisinya sudah cukup lama. Material rangka atapnya juga sudah cukup lama," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PU-Perkim) NTB, Lalu Wijaya Kusuma ditemui di kantor Gubernur NTB, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wijaya, kondisi bangunan diperparah penggunaan genteng beton yang memiliki beban cukup berat. Ia menduga struktur kayu penopang atap tidak lagi mampu menahan beban sehingga menyebabkan atap roboh.
"Itu kan gentengnya genteng beton, itu kan berat," ucap Wijaya.
Saat ini, lokasi kejadian masih dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan. Pemerintah akan melakukan pembersihan reruntuhan setelah proses identifikasi dari kepolisian selesai.
"Selesai dulu dari kepolisian, setelah itu baru nanti kami lakukan pembersihan biar aman. Karena khawatirnya sisa-sisa di atas juga nanti akan membahayakan siswa," tegasnya.
Wijaya menambahkan, sesuai arahan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, pihaknya akan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap bangunan sekolah yang mengalami kerusakan di NTB. Namun, proses tersebut tetap menunggu permintaan resmi dari pihak sekolah.
"Kami pastikan juga proses belajar-mengajarnya kembali normal di sana. Karena ada ruang untuk kelas 12 sudah tidak belajar lagi itu yang digunakan sementara," katanya.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, estimasi biaya perbaikan tiga ruangan yang ambruk mencapai sekitar Rp 400 juta. "Kami tidak menghitung kerugian. Itu masuk kategori rusak ringan. Tapi kalau atap rusak kan sama artinya tidak bisa terpakai. Inilah yang akan kami recovery dalam waktu dekat," tegas Wijaya.
Ia menjelaskan Dinas PU-Perkim masih menunggu surat resmi dari Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Disdikpora) terkait permintaan perbaikan bangunan tersebut. Surat permintaan perbaikan itu belum diterima karena masih dilakukan identifikasi oleh aparat kepolisian.
"Jadi untuk dana DAK kemarin itu dapat tapi untuk bangunan sebelah ada 16 ruangan. Ini sebenarnya akan dimasukkan usulan dan sudah dimasukkan usulan. Karena masih usulan dan sekolah sudah dapat bantuan, ya harus menunggu perbaikan berikutnya," tandasnya.
Sebelumnya, satu orang siswa dirujuk ke Rumah Sakit Umun Daerah Kota Mataram imbas atap kelas di SMAN 7 Mataram tiba-tiba ambruk saat jam istirahat, Selasa siang (19/5/2026). Peristiwa itu sempat membuat empat siswa mengalami luka ringan dan syok.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, mengatakan peristiwa nahas itu saat jam istirahat. Sebagian siswa melaksanakan salat Zuhur berjamaah di musala sekolah sehingga tidak banyak siswa berada di dalam kelas.
"Hanya beberapa siswa yang berada di ruangan saat atap bangunan runtuh. Mereka merupakan siswa yang tidak mengikuti salat berjamaah," ujar Ridha saat ditemui di SMAN 7 Mataram, Selasa sore (19/5/2026).
Ridha menyebut terdapat lima siswa di dalam kelas atap roboh. Satu siswa berhasil keluar ruangan sebelum atap roboh. Sementara empat siswa berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka ringan.
"Yang empat ini bisa keluar dengan selamat hanya lecet saja, cedera sedikit saja," katanya.
Dari empat siswa yang alami luka, tiga orang alami luka ringan telah diperbolehkan pulang usai mendapatkan penanganan medis di puskesmas terdekat. Sementara satu siswa dirujuk ke RSUD Kota Mataram untuk menjalani pemeriksaan lanjutan karena mengalami syok.
"Dia tidak luka, ndak ada apa-apa. Cuman syok mungkin ya. Jadi, katanya kepalanya pusing," ungkap Ridha.
(nor/nor)










































