detikBali

Satu Dekade Alunan Budaya Pringgasela Belum Bisa Genjot Kunjungan Wisatawan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Satu Dekade Alunan Budaya Pringgasela Belum Bisa Genjot Kunjungan Wisatawan


Sanusi Ardi W - detikBali

Tarian Kolosal di Alunan Budaya Desa Pringgasela Raya, Lombok Timur, NTB, Sabtu (25/7/2026). (Sanusi Ardi W/detikBali)
Pementasan tari kolosal dalam ajang festival Alunan Budaya Desa Pringgasela Raya, Lombok Timur, NTB, Sabtu (25/7/2026). (Foto: Sanusi Ardi W/detikBali)
Lombok Timur -

Tahun ini, festival Alunan Budaya Pringgasela Raya sudah memasuki satu dekade pelaksanaannya. Meski begitu, festival yang menampilkan berbagai pertunjukan spektakuler itu belum mampu menggenjot kunjungan wisatawan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Wakil Bupati Lombok Timur, Muhammad Edwin Hadiwijaya, tak menampik hal tersebut. Namun, Edwin tetap bersemangat karena festival budaya itu dapat menggerakkan ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk mendatangkan wisatawan, tentu tidak bisa hanya satu titik saja. Kita harus menggerakkan Desa Tetebatu dan sekitarnya untuk menjadi deretan kegiatan itu yang penting," kata Edwin, Sabtu (25/7/2026).

Malam pembukaan Alunan Budaya Pringgasela Raya Tarian 2026 dimeriahkan dengan tari kolosal hingga peragaan busana. Festival ini dipusatkan di Simpang Empat Tugu Juang Pringgasela Raya (Tugu Mopra) dan berlangsung selama tujuh hari, dari 19-25 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

Pantauan detikBali, ribuan pengunjung menghadiri malam penutupan Alunan Budaya Pringgasela Raya pada Sabtu (25/7). Hanya terlihat empat orang turis asing yang ada di lokasi. Selebihnya adalah tamu undangan, pejabat daerah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat di Lombok Timur.

Alunan Budaya Pringgasela Raya diketahui telah masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Edwin meyakini festival budaya tersebut memberikan dampak bagi masyarakat di wilayah Pringgasela Raya dan desa-desa sekitarnya.

"Tidak hanya dampak di sekitar lokasi kegiatan, tapi termasuk desa sekitarnya. Itu yang menjadi bagian dari penilaian apakah berlanjut atau tidak. Yang jelas kami dari Pemkab Lombok Timur mendukung penuh dan tentu bisa berlanjut pada KEN berikutnya," imbuh Edwin.

Alunan Budaya Pringgasela Raya tahun ini mengangkat tema 'Sri Mananti' yang bercerita tentang perempuan dan tenun. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan karnaval tenun yang dilanjutkan dengan pertunjukan tari kolosal.

Edwin mewacanakan agar Alunan Budaya Desa Pringgasela bisa digelar di tingkat kabupaten. Tujuannya agar kegiatan tersebut mendapat jangkauan lebih luas.

"Bisa saja nanti kita cari lokasi yang lain lagi. Karena ini tingkat kabupaten jadi jangkauannya lebih luas lagi," pungkasnya.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads