Bupati Lombok Utara Tolak Pipa Bawah Laut Atasi Krisis Air di Gili Meno

Ahmad Viqi - detikBali
Selasa, 07 Jul 2026 22:42 WIB
Foto: Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar ditemui di Mataram, Selasa (7/7/2026). (Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar menolak keras pemasangan pipa bawah laut untuk menuntaskan persoalan krisis air bersih yang dihadapi warga selama tiga tahun di kawasan wisata tiga gili, khususnya Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, NTB.

Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, menyatakan penanganan krisis air bersih akan teratasi dengan opsi pembangunan beach well (sumur pantai) di Gili Meno. Meski demikian, metode beach well saat ini masih terganjal izin akibat status tiga gili yang masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN).

"Jadi ini masih terganjal izin di Kementerian. Ini sedang kita urus," ujar Najmul di Mataram, Selasa (7/7/2026).

Najmul menegaskan opsi pemasangan pipa bawah laut untuk mengatasi krisis air bersih di Gili Meno dianggap berbahaya bagi terumbu karang. Musababnya, kebutuhan pipa dari dataran Pulau Lombok ke tiga Gili bisa mencapai puluhan kilometer di bentangkan di dasar laut.

"Jadi ini sangat bahaya bagi kerusakan terumbu karang," katanya.

Najmul enggan melabeli Gili Meno sebagai kawasan wisata yang krisis air bersih. Menurut dia, pemerintah daerah bersama Perumda Air Minum (PDAM) Amerta Dayan Gunung terus berupaya melakukan suplai air bersih ke masyarakat di Gili Meno.

"Dalam situasi ini, kami kan tetap mengantarkan air. Dari darat kemudian ke Gili Meno, air tetap kami distribusikan setiap hari. Jadi, saya rasa bukan krisis air ya, karena memang ada kesulitan sedikit soal air saja. Tapi alhamdulillah selama ini kami menghindari zero service," ujar Najmul.

Najmul mengeklaim, penolakan pemasangan pipa bawah laut ke tiga gili itu sejalan dengan aspirasi dari sejumlah organisasi lingkungan Walhi NTB yang menyebut pipa bawah laut berpotensi besar merusak terumbu karang. Ditambah lagi, proyek tersebut membutuhkan biaya besar dan pengerjaan yang rumit.

"Bayangkan puluhan kilometer pipa di bawah laut, itu yang akan menggoyang dan merusak terumbu karang di bawah. Kami punya pengalaman dulu, pernah diberikan bantuan oleh Kementerian Desa, hanya bertahan tiga bulan langsung hancur semua pipa bawah laut itu karena derasnya arus," kata Najmul.



Simak Video "Video: Krisis Air Bersih di Kadujajar, 2 Km Ditempuh Demi Setetes Air Bersih"


(hsa/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork