detikBali

Sejarah Kesultanan Bima: Mulai Berdiri hingga Era Pascakemerdekaan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sejarah Kesultanan Bima: Mulai Berdiri hingga Era Pascakemerdekaan


Arga Fahreza - detikBali

Muhammad Salahuddin, Sultan terakhir Kesultanan Bima yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional 2025.
Foto: Muhammad Salahuddin, Sultan terakhir Kesultanan Bima yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional 2025. (dok. Pribadi Dewi)
Bima -

Banyak kerajaan di nusantara yang berdikari dan memerintah wilayahnya dengan penuh. Salah satu kerajaan yang sebetulnya masih eksis hingga kini adalah Kesultanan Bima. Meski tidak lagi berkuasa seperti dahulu, jejak peradaban Kesultanan Bima menarik untuk ditelusuri.

Bagaimana sejarah kerajaan bercorak Islam terbesar di NTB ini? Simak selengkapnya!


Berdirinya Kerajaan Bima

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat Bima dahulu hidup dengan sistem pemerintahan federal yang masing-masing wilayah berdiri tanpa komando pusat. Mereka yang memegang kuasa adalah Ncuhi dan kepercayaan yang dianut pun masih menyembah kepada leluhur. Agama tradisional ini disebut sebagai Marapu.

ADVERTISEMENT

Hingga kemudian hari, datanglah seorang tokoh dari Jawa beragama Hindu yang disebut Sang Bhima. Tokoh ini mengenalkan agama Hindu dan menyatukan seluruh wilayah yang dikuasai Ncuhi dalam bingkai kerajaan bercorak Hindu. Negara yang dipimpin olehnya lantas dinamakan sebagai Kerajaan Bima.

Kerajaan Bima menjadi negara yang berdaulat selama ratusan tahun di Pulau Sumbawa. Hingga pada tahun 1621 Masehi, kerajaan ini mengalami perubahan sebagai sebuah kesultanan.


Proses Islamisasi dan Perubahan Menuju Kesultanan

Kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan Bima ketika rajanya yang ke-27 menjadi seorang muslim dan bergelar Sultan Abdul Kahar 1. Islamisasi di Kerajaan Bima terjadi lewat perdagangan dan interaksi sehari-hari.

Sulit mengetahui siapa penyebar pertama Islam di wilayah ini. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pergulatan Kerajaan Bima terjadi dengan para Mubaligh dari Kerajaan Gowa di Sulawesi. Diketahui nama-nama seperti Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Umar Al-Bantani adalah tokoh yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Kerajaan Bima.

Sejak Sultan Abdul Kahar 1, para penguasa di Kesultanan Bima terus menggunakan gelar Sultan sebagai penguasa tertinggi. Kedatangan Bangsa Barat terutama dengan bercokolnya Belanda mengubah kuasa politik di Bima. Kesultanan ditempatkan seperti negara bawahan Belanda yang semi-protektorat.

Pascakemerdekaan dan Menjadi Pusat Kebudayaan

Sejak Kemerdekaan 1945, banyak kerajaan yang turut serta bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia yang masih seumur jagung. Wafatnya Sultan Abdul Kahir II membuat kesultanan menjadi wilayah swapraja dan pada tahun 1958 kekuasaan sultan dihapuskan.

Meskipun kekuasaan politik sultan telah dihapus, takhta tersebut masih diwariskan secara kultural hingga sekarang. Banyak peninggalan budaya baik bangunan seperti istana dan masjid hingga tari-tarian yang menjadi tinggalan Kesultanan Bima.

Istana Asi Mbojo dan Asi Bou adalah dua istana yang menjadi peninggalan Kesultanan Bima. Asi Mbojo dibangun pada tahun 1888 dan Asi Bou dibangun pada tahun 1927 sebagai tempat tinggal sementara. Selain istana, juga ada masjid seperti Masjid Sultan Muhammad Salahuddin dan Masjid Al-Muwahiddin.

Dalam segi sosial, contoh warisan budaya yang ada di masyarakat adalah pakaian rimpu. Ini adalah jenis pakaian perempuan yang berbahan sarung. Kain pertama dipakaikan di bagian atas dan menutup kepala hingga bagian tengah. Sementara kain kedua digunakan sebagaimana memakai rok.

Masyarakat Bima juga terkenal dengan penutup kepalanya berupa songko lenta yang memiliki dua warna yakni hitam (Me'e) dan putih (Bura). Ada juga yang disebut sebagai sambolo, sebuah ikat kepala dari tenun yang mencirikan status sosial si pemakai. Sambolo toho leme berbentuk kerucut dan dipakai oleh bangsawan, sedangkan sambolo toho sungge dipakai oleh masyarakat biasa.


Demikian penjelasan mengenai Kesultanan Bima. Semoga membantu!



(hsa/iws)











Hide Ads
LIVE