detikBali
Round Up

Ganasnya Anjing Gila Renggut Nyawa PPPK di Kupang

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026
Round Up

Ganasnya Anjing Gila Renggut Nyawa PPPK di Kupang


Tim detikBali - detikBali

Pria bernama Wempi Kebo meninggal setelah sempat digigit anjing diduga rabies di Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (23/5/2026). (Foto: Istimewa)
Foto: Pria bernama Wempi Kebo meninggal setelah sempat digigit anjing diduga rabies di Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (23/5/2026). (Foto: Istimewa)
Kupang -

Seorang pasien suspek rabies meninggal dunia di Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban bernama Wempi Kebo. Dia merupakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang berdinas di kantor kecamatan. Mirisnya, Wempi baru saja lulus menjadi PPPK.

Wempi dibawa ke Puskesmas Soliu dengan gejala rabies atau penyakit anjing gila. Tak lama dirawat, Wempi akhirnya meninggal dunia. "Betul, korban meninggal di Puskesmas Soliu dengan dugaan gejala rabies. Beliau bekerja di kantor camat Amfoang Tengah," ujar Sekretaris Desa Saukibe, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Jhoni Kuanine, saat dihubungi detikBali, Sabtu (23/5/2026).

Digigit Anjing Dua Kali

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jhoni mengungkapkan Wempi masih berdomisili di Desa Saukibe. Ia menuturkan Wempi digigit anjing dua kali. Pertama kali pada awal Mei 2026. Kemudian yang kedua pada 14 Mei 2026 di Desa Oelfatu.

ADVERTISEMENT

"Dia mulai menunjukkan gejala pada minggu lalu, tapi yang lebih jelas nanti yang berkompeten mungkin dari Puskesmas Soliu yang bisa menyampaikan soal gejalanya," ungkap Jhoni.

Menurut Jhoni, keluarga awalnya tidak melapor kepada pemerintah desa maupun petugas medis setelah Wempi digigit anjing. Keluarga justru baru melapor beberapa hari lalu setelah Wempi menunjukkan gejala rabies seperti takut air, udara, dan cahaya.

Sementara itu, Kapospol Soliu Aipda Johanis Garets Lerrik mengatakan Wempi mulai menunjukkan gejala khas rabies setelah pulang dari Amfoang Tengah. Keluarga kemudian menghubungi polisi untuk mengamankannya.

Meski demikian, Lerrik enggan berspekulasi lebih jauh terkait penyebab dan waktu kematian pegawai kecamatan itu. Ia beralasan belum mengecek informasi tersebut ke Puskesmas Soliu.

"Kena rabies atau apa, itu beta belum cek karena tadi beta telepon itu nomor yang mereka hubungi tidak aktif," pungkas Lerrik.

Enam Warga Digigit Anjing Diduga Rabies

Sebelumnya, dalam kasus berbeda, ada enam orang warga di Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, menjadi korban gigitan anjing yang diduga terinfeksi rabies. Hal ini menambah jumlah korban yang awalnya hanya dialami oleh lima warga Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut.

"Informasi terakhir tadi malam itu, korban bertambah menjadi enam orang," ujar Camat Amfoang Barat Laut, Imran Kusuma, kepada detikBali, Rabu (20/5/2026).

Salah satu warga di Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, digigit anjing diduga rabies di kaki kanannya, Senin (18/5/2026).Salah satu warga di Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, digigit anjing diduga rabies di kaki kanannya, Senin (18/5/2026). (Foto: Istimewa)

Imran belum menyebutkan identitas korban tersebut. Sebab, petugas Kecamatan Amfoang Barat Laut bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk mengecek dan melakukan pendataan di Puskesmas Soliu.

"Tetapi untuk informasi selengkapnya nanti saya sampaikan karena informasi dari puskesmas itu jumlahnya saja, namun identitas korban dan detailnya belum disampaikan sehingga teman-teman saya arahkan ke puskesmas," jelas Imran.

Sudah Diberi VAR

Menurut Imran, pemerintah desa Oelfatu bersama warga dan instansi terkait tengah berupaya mencari anjing tersebut lalu direncanakan untuk dieliminasi. Kemudian terkait lima korban yang digigit pada Senin (18/5/2026), itu kondisinya dipastikan sudah membaik dan telah dipulangkan ke rumahnya masing-masing.

"Kondisinya sudah membaik dan sudah pulang ke rumah masing-masing. Jadi saya arahkan kepada kepala desa Oelfatu untuk semacam wawancara kepada para korban berkaitan dengan jenis dan ciri-ciri anjing tersebut karena memang itu anjing yang sama, tapi kami tidak tahu siapa pemiliknya," terang Imran.

Ia memastikan stok vaksin antirabies (VAR) di Puskesmas Soliu hingga saat ini masih tersedia. Sehingga lima korban gigitan itu juga telah mendapatkan vaksin sebanyak dua kali.

"Jadi lima korban itu semuanya digigit di bagian kaki, tidak ada di bagian kepala maupun organ vital lainnya," ungkap Imran.

Sementara, lima orang yang digigit itu adalah Paman Saleh, Jack Sae, Win Fomeni, Petrus Buknoni, dan Deli Banu. Lima orang tersebut digigit saat sedang beraktivitas di rumahnya masing-masing. Dari lima orang korban tersebut, dua di antaranya adalah guru.

"Rata-rata kejadian (gigitan) di dalam rumah. Ada guru SMA dan SD kalau tidak salah, tetapi korban terakhir itu Pak Petrus Buknoni, guru SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut," ungkap Imran.




(hsa/hsa)











Hide Ads