Kepolisian Resor (Polres) Flores Timur menerima ratusan anak panah dan puluhan pucuk senjata api rakitan pascabentrok antarwarga Desa Narasaosina dan Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ratusan senjata itu diserahkan langsung oleh kepala desa bersama tokoh adat dan masyarakat Desa Narasaosina.
"Warga menyerahkan 57 pucuk senjata api rakitan, 49 buah busur, 198 anak panah, serta 25 kelongsong peluru rakitan," kata Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer, Minggu (17/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eliezer mengatakan ratusan senjata itu diserahkan warga kepada Kapolres Flores Timur, Adhitya Octoria Putra. Ia menilai penyerahan senjata secara sukarela itu menunjukkan komitmen warga Desa Narasaosina dalam mengedepankan perdamaian setelah terlibat bentrok dengan desa tetangga.
"Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah desa, tokoh adat, dan seluruh masyarakat memilih jalan damai serta mengedepankan persaudaraan dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah," imbuhnya.
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh pemerintah Desa Narasaosina bersama tokoh adat dan masyarakat tersebut. Ia berharap warga lainnya yang masih menguasai senjata untuk dapat menyerahkannya kepada polisi.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat yang hingga saat ini masih menyimpan atau menguasai senjata api rakitan maupun senjata berbahaya lainnya agar dengan kesadaran sendiri menyerahkan secara sukarela kepada pihak kepolisian demi keamanan bersama," ujar Adhitya.
Diketahui, bentrok antarawarga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak terjadi pada Sabtu (9/5) malam. Belasan rumah ludes dibakar dan tujuh warga terkena peluru hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Bentrokan dipicu saling klaim kepemilikan tanah adat yang belum juga rampung. Padahal, kasus tersebut sudah sempat dimediasi Pemda Flores Timur beberapa waktu lalu.
Mediasi kedua desa secara terpisah dilakukan pascapecah konflik pertama yang menyebabkan lima orang terkena luka tembak serius pada Jumat (6/3). Selang hanya sebulan, konflik antarwarga kedua desa itu kembali terjadi.
(iws/iws)










































