Viral di media sosial (medsos) poster yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menolak ajang lari ekstrem Rinjani 100. Penolakan tersebut lantaran mereka kecewa atas janji Pemerintah Kabupaten (Pemkab) yang tak kunjung terpenuhi.
Penolakan tersebut kini ramai diperbincangkan oleh warganet di aplikasi Threads melalui unggahan akun @ady_rinjani. Beragam komentar yang mempertanyakan janji dan kesiapan panitia dalam menyelenggarakan event bergengsi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Janji apa tuh? Cie... Tepatin dulu dong janji2 nya jgn kaya pe***at," tulis akun @popheng_ajay.
"Event seperti ini sangat besar banget dampak positifnya buat ekonomi sekitar. Masa nggak mau kerja sama warloknya," tulis akun lainnya, @reizwelt.
"Waduh.. tiket sudah di tangan ni .. masa jalan2 doang.. yuks panitia segera clearkan," ujar akun @indahbimo, pada unggahan tersebut.
Ada juga dari netizen mempertanyakan alasan dari aliansi tersebut melakukan penolakan. "scroll di kolom komentar, belum nemu alasan yang jelas," tulis akun @dayat.py.
Ketua Aliansi Pemuda Kecamatan Sambelia, Lalu Rohyadi, menyebutkan, alasan mereka menolak event Rinjani 100 ini karena adanya janji yang belum terealisasi dari Pemkab Lombok Timur. Menurut dia, pada event tahun sebelumnya, warga setempat dijanjikan infrastruktur yang memadai dan keterlibatan warga lokal dalam ajang tersebut.
"Tahun lalu kami bersama beberapa tokoh, termasuk camat dan kepala desa, menghadap ke wakil bupati di pendopo. Kami hanya minta hal mendasar. Seperti toilet (WC), penataan lapak pedagang lokal, dan tempat ibadah. Malu kita gelar event internasional tapi fasilitasnya tidak ada," jelas Lalu Rohyadi, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, penolakan ini sebagai langkah terakhir, karena hingga saat ini janji-janji tersebut tak kunjung direalisasikan. Padahal, lanjut Rohyadi, fasilitas tersebut menjadi penunjang dari ajang Rinjani 100 sendiri.
Ia menyayangkan sikap Pemkab Lombok Timur yang dinilai hanya memberikan harapan palsu. Padahal, saat pertemuan tersebut, pemerintah yang diwakili oleh wakil bupati menjanjikan pengerjaan fasilitas pendukung.dilakukan pada tahun anggaran 2026. Namun, hingga hitungan hari menjelang event dimulai, Pantai Pekendangan di Desa Belanting, tetap tak tersentuh pembangunan.
"Di sana (Pantai Pekendangan) yang akan dijadikan lokasi start, tetapi hingga kini belum ada terlihat pembangunan, padahal sudah janji dari tahun sebelumnya," ucap Rohyadi.
Ia berujar, selama ini wilayah mereka hanya dijadikan tempat numpang lewat tanpa memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat. Ia membandingkan perputaran uang yang masif di wilayah Sembalun, sementara di Kecamatan Sambelia hanya mendapatkan sisa-sisa.
"Dampak dari acara ini tidak kami rasakan. Kita di Sambelia hanya dapat sampahnya saja," ujarnya.
Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu jadwal pertemuan dengan stakeholder terkait dan menyampaikan kejelasan yang dijanjikan. Namun hingga saat ini belum ada respon dari Pemkab Lombok Timur.
"Tidak ada sampai hari ini. Pernah ada dari Dinas Pariwisata yang datang itu pun hanya membuat master plan, tidak memberikan solusi," imbuhnya.
(hsa/hsa)










































