Korban kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus bertambah dan kini mencapai 29 orang. Empat orang masih dirawat intensif, satu di antaranya ibu hamil.
Kepala Puskesmas Pengadangan, Suhamdi, menjelaskan pasien terus bertambah hingga sore hari berdatangan ke Puskesmas. Mereka mengeluhkan pusing, sakit perut dan juga muntah-muntah.
"Semula 22 orang, tapi hingga pukul 15.00 Wita, jumlah pasien bertambah menjadi 29 orang. Enam orang siswa sekolah dan 1 orang orang ibu hamil," ujar Suhamdi, Jumat (24/4/2026).
Adapun dari 29 orang tersebut, sebanyak empat orang masih dilakukan perawatan intensif di ruang rawat inap dan UGD. Satu di antaranya merupakan ibu hamil, saat ini pasien tersebut sedang mendapatkan perawatan dari tim medis.
"Untuk ibu hamil sudah ditangani oleh dokter, Insyaallah aman bayinya," jelas Suhamdi.
Hingga saat ini, pihaknya belum berani memastikan apakah pasien-pasien tersebut keracunan karena MBT atau tidak. Sebelum hasil uji laboratorium sampel menu MBG keluar.
"Kalau dari indikasinya memang mengarah ke keracunan, tapi kita belum dapat pastikan penyebabnya, tunggu hasil lab dulu," ucap Suhamdi.
Sementara itu, Satgas MBG Lombok Timur bersama Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) telah turun ke lapangan, untuk melihat kondisi para siswa sekaligus memastikan penanganan berjalan optimal.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Provinsi. Saat ini penanganan dilakukan oleh tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Lombok Timur," ujar Ahyan, Ketua Satgas MBG Lombok Timur.
Ia menambahkan, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan telah dikirim ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk uji laboratorium. "Sampel makanan sudah dikirim ke BPOM," tambahnya.
Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"
(hsa/hsa)