detikBali

Korban Keracunan Menu MBG di Bima Bertambah Jadi 27 Orang

Terpopuler Koleksi Pilihan

Korban Keracunan Menu MBG di Bima Bertambah Jadi 27 Orang


Sui Suadnyana, Rafiin - detikBali

Sejumlah balita korban keracunan menu MBG dirawat di Puskesmas Wera, Kabupaten Bima, NTB, Minggu (5/4/2026). (Dok. Puskesmas Wera)
Foto: Sejumlah balita korban keracunan menu MBG dirawat di Puskesmas Wera, Kabupaten Bima, NTB, Minggu (5/4/2026). (Dok. Puskesmas Wera)
Bima -

Korban keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), bertambah dari 24 menjadi 27 orang. Puluhan korban itu dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Wera.

"Totalnya ada 27 orang," ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Wera, Siti Rahma, saat dikonfirmasi detikBali, Minggu, (5/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siti memerinci, 27 korban keracunan menu MBG terdiri dari 23 balita, anak pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga taman kanak-kanak (TK), satu ibu hamil (bumil), satu siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan tiga lanjut usia (lansia). "(Para korban) masih dirawat dan sebagian kondisinya sudah berangsur pulih dan membaik," terang Siti.

Siti menjelaskan awalnya ada seorang anak dari Desa Tadewa, Kecamatan Wera, dibawa orang tuanya ke Puskesmas Wera, Sabtu (4/4/2026) sekitar pukul 15.00 wita. Anak itu mengeluh sakit perut dan diare. Pasien kemudian terus berdatangan ke Puskesmas Wera dengan keluhan yang sama sejak pukul 17.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita.

ADVERTISEMENT

Hasil identifikasi sementara, muncul keluhan muntah, sakit perut hingga diare setelah menyantap menu yang dikemas dalam omprengan MBG, seperti nasi, telur ceplok berbumbu, nugget, timun, kemangi dan jeruk. "Untuk saat ini sampel makanan yang dikonsumsi sudah diambil untuk diuji," ungkap Siti.

Berdasarkan keterangan sejumlah korban, menu MBG yang dikonsumsi dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wadu Bedi yang berada di Desa Nanga Wera, Kecamatan Wera pada Sabtu pagi. "Mereka mengaku konsumsi makanan ini langsung dari ompreng di tempat dan ada juga yang bawa pulang pakai kresek dan makan di kebun," imbuh Siti.




(hsa/hsa)










Hide Ads