Kamar-kamar hotel di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, penuh dipesan peziarah selama perayaan Semana Santa. Tingkat hunian tinggi terjadi sejak Rabu hingga Jumat besok. Tak hanya hotel, jasa ojek laut Pantai Palo-Wureh hingga pedagang lilin juga kebanjiran rezeki.
Receptionist Hotel ASA, Ester, mengatakan seluruh 28 kamar di hotel tersebut terisi tamu dari kepolisian, TNI, serta pemerintah daerah Flores Timur.
"Selain itu ada juga peziarah dari Jakarta, Bandung, NTT seperti Bajawa dan Manggarai," kata Ester yang diwawancarai detikBali di hotel pagi ini, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ester menjelaskan, peziarah mulai check-in pada Rabu dan Kamis, dengan rencana check-out Jumat hingga Sabtu.
"Setiap tahun sama semua kamar penuh," imbuhnya.
Pemilik Hotel Sunrise Larantuka, Ady, menyebut seluruh 16 kamar juga sudah terisi peziarah, terdiri dari 10 kamar tipe Superior seharga Rp 350.000, tiga kamar Deluxe Rp 440.000, dan tiga kamar Deluxe Sea View Rp 495.000.
"Total penjualan maksimal/ hari Rp 6.305.000. Untuk penjualan 3 hari total Rp 18.915.000," ujarnya saat disambangi detikBali di Hotel Sunrise Larantuka.
Sementara itu, Receptionist Hotel Gelekat Nara, Isma, menyebut jumlah peziarah tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kuota lebih dari tahun lalu karena ada yang konsumsi. Sehingga hitung-hitungan ini lebih dari tahun kemarin. Kamar ada 14. Yang nginap 30 orang karena ada yang pakai ekstra bed," ujarnya.
"11 orang dari Jawa, ada yang dari Maumere dan wilayah NTT lain," imbuhnya.
Ojek Laut Kebanjiran Rezeki
Lonjakan peziarah juga berdampak pada jasa ojek laut yang melayani rute Pantai Palo ke Wureh, Pulau Adonara. Para pengemudi ojek laut mengalami peningkatan penghasilan signifikan.
"Setiap penumpang ditagih Rp 20 ribu per orang. Untuk kemarin saya dapat 5 juta, dua hari ini dapat 9 Juta," kata Rian Diaz kepada detikBali di Pantai Palo Larantuka.
Rian mengatakan, pada hari biasa penghasilan mereka hanya sekitar Rp 800 ribu per hari, bahkan sering di bawah angka tersebut. Ia menyebut terdapat 27 kapal yang melayani penyeberangan peziarah.
"Kami suka lebih banyak orang mengenal daerah kami," pungkasnya.
Selain itu, pedagang lilin di sekitar Pantai Palo-Wureh juga merasakan dampak ekonomi. Ibu Nurtin Lamadi, seorang warga Muslim di Kota Larantuka, mengaku memperoleh penghasilan hingga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per hari dari penjualan lilin.
"Penghasilan jual lilin sehari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta," ujarnya singkat.
Ia juga menjual kue dan es manisan di pinggir jalan dekat pelabuhan.
Ribuan Peziarah Datang ke Larantuka
Berdasarkan grafik peziarah Semana Santa Keuskupan Larantuka di pkrrl.com, tercatat sebanyak 2.447 peziarah, termasuk 21 warga negara asing asal Timor Leste, Australia, Prancis, dan Amerika Serikat.
Sementara peziarah domestik berasal dari berbagai daerah, antara lain Pulau Jawa 267 orang, Bali 10 orang, Sumatera 23 orang, Sulawesi 42 orang, Ende 151 orang, Sikka 457 orang, Ngadha 127 orang, Kota Kupang 351 orang, Lembata 76 orang, Nagekeo 85 orang, Alor 27 orang, Manggarai 57 orang, Belu 87 orang, Timor Tengah Utara 57 orang, Sumba Barat Daya 10 orang, Malaka 50 orang, Manggarai Barat 7 orang, dan daerah lainnya.
Hingga siang ini, sebanyak 2.347 peziarah beragama Katolik, Kristen 72 orang, Buddha 6 orang, Islam 19 orang, dan Hindu 1 orang. Mereka menginap di hotel, homestay, fasilitas umum, serta rumah warga.
(dpw/dpw)










































