Mesin pengolahan sampah Manajemen Sampah Zero (Masaro) di Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, rusak lagi. Padahal, mesin itu baru diperbaiki sejak kerusakan terakhir pada Sabtu (7/3/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M. Busyairi mengajukan komplain ke perusahaan penyedia atas kerusakan tersebut. "Kami komplain pada pihak penyedia, baik melalui WhatsApp maupun kami surati mereka," ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Busyairi mengungkapkan kerusakan mesin senilai Rp 10 miliar saat ini sama dengan yang sebelumnya, yakni pada bagian blower mesin insinerator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya bukan rusaknya yang berat, tapi di blowernya itu lepas lasnya. Sehingga kalau lepas kan bahaya itu, asapnya hitam tidak melalui filter," jelasnya.
"Sehingga itu perlu dilas kembali, untuk mengelas itu perlu teknisi dari mereka (penyedia). Tetapi kami hari ini minta untuk penanganan setiap gangguan itu menggunakan teknisi kami, teknisi mereka hanya mengarahkan," tambahnya.
Kerusakan tersebut, kata Busyairi, disebabkan sampah yang masuk ke mesin Masaro tidak terpilah sempurna. Beberapa material seperti batu dan bata kerap ditemukan masuk mesin pengolahan sehingga membuat mesin rusak.
Busyairi menyebut pihaknya menjadi korban penyedia Masaro yakni dari Institut Teknologi Bandung (ITB), sebab kinerja mesin dalam mengolah sampah tidak maksimal dan kerap mengalami kerusakan.
Padahal, menurut Busyairi mesin pengolahan tersebut awalnya direncanakan mampu mengolah sampah meski tanpa dipilah dengan kapasitas 20 ton per hari, tapi realitanya hanya beberapa ton per hari.
"Ya kan sebenarnya kami mengharapkan mesin ini baru, mesin ini bekerja secara normal. Anggarannya begitu besar. Kalau sering terjadi kendala berarti kami kan juga korban, artinya sampah menumpuk setiap hari," tegasnya.
(hsa/hsa)










































