Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat berjanji perbaikan jembatan putus di Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar direalisasikan tahun ini. Anggaran Rp 2 miliar disiapkan.
Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum, Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRKP), Lalu Ratnawi mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang menuntaskan Detail Engineering Design (DED) jembatan tersebut.
"Ditangani tahun ini, sekitar Rp 2 miliar itu. Sekarang kita lagi tuntaskan DED-nya," ujarnya, Senin (2/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratnawi mengatakan jembatan tersebut nantinya akan diperpanjang sekitar 10 sampai 11 meter untuk memperkokoh kedua sisinya. Lebar jembatan juga akan ditambah untuk mempermudah mobilisasi kendaraan roda empat.
"Tentu akan kita hitung dengan debit air beberapa kali lipat sampai 20 atau 30 tahun ke depan," imbuhnya.
Tidak hanya jembatan, Ratnawi juga mengatakan perbaikan nantinya akan menyasar jalan penghubung jembatan tersebut dengan sepanjang tiga kilometer. Jalan alternatif menuju Kuta Mandalika tersebut, nantinya akan diperbaiki menggunakan metode hotmix.
"Memang perbaikan jalan dianggarkan pak bupati tahun ini. Sekitar tiga kilometer itu, jadi sekaligus nanti jalan dengan jembatan," jelasnya.
Sebelumnya, jembatan penghubung Desa Mareje dan Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, putus diterjang arus sungai, Minggu (22/2). Sekitar 300 kepala keluarga (KK) sempat terisolasi selama dua hari akibat ambruknya akses utama tersebut.
Jembatan itu merupakan satu-satunya penghubung antara Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje di Kecamatan Lembar. Putusnya jembatan membuat aktivitas warga lumpuh, termasuk distribusi barang dan mobilitas kendaraan.
Kepala Desa Sekotong Timur, Marwan Hakim, mengatakan putusnya jembatan juga berdampak pada sedikitnya lima sekolah, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD). Akibatnya, ratusan siswa tidak bisa pergi ke sekolah sejak Senin (23/2/2026).
"Sampai hari ini kan tidak ada yang bisa sekolah anak-anak kami ini, karena nggak bisa lewat. Di sini saja SDN 1 Sekotong Timur jumlah siswanya sekitar 200, tapi yang masuk nggak sampai 70. Ada juga warga kami yang sekolah ke luar tapi nggak bisa lewat," ungkapnya kepada detikBali, Rabu (25/2/2026).
Menurut Marwan, tidak hanya aktivitas pendidikan yang terdampak. Kegiatan ekonomi warga di lima dusun tersebut juga tersendat karena akses menuju jalur utama lumpuh.
"Warga kami ini sudah nggak bisa ke pasar, harus muter dulu lewati bukit. Ada ibu-ibu yang jualan sayur pakai motor itu juga sekarang sudah nggak bisa lewat jadinya," tuturnya.
(mud/mud)










































