Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sekitar 49,5 hektare (ha) lahan pertanian terendam banjir akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut pekan lalu. Data Dinas Pertanian Kota Mataram menunjukkan, Kecamatan Sekarbela menjadi wilayah paling terdampak.
"Hampir semua lahan pertanian terendam banjir di Kecamatan Sekarbela karena berada di kawasan hilir," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Johari, saat diwawancarai di ruangannya, Rabu (28/1/2026).
Johari menjelaskan, dampak banjir paling besar terjadi di Kelompok Tani Karang Pule, Jempong Baru, Sekarbela, dengan luas lahan 30 hektare dan umur tanaman satu minggu. Banjir di lahan ini terjadi karena tanggul air yang jebol. Dari luas lahan 30 hektare, ada sekitar 17 hektare yang terdampak banjir.
Selain itu, banjir juga merendam lahan Kelompok Tani Pade Ate seluas 2 hektare dari total lahan baku sawah 16,23 hektare. Sementara lahan milik Kelompok Tani Tabu Suka Maju, Sinar Terang, dan Kembang Sari terdampak masing-masing sekitar 0,5 hektare dengan umur tanaman padi mencapai 80 hari.
Sebagai langkah penanganan, petugas melakukan penyedotan air yang menggenang di area persawahan menggunakan mesin pompa. Penanaman ulang akan dilakukan apabila tanaman masih terendam hingga satu minggu ke depan akibat tingginya curah hujan.
"Untuk tanaman yang memasuki tahap panen, akan dilakukan panen langsung agar bulir padi tidak rusak atau membusuk," ujarnya.
Ia menambahkan, lahan milik Kelompok Tani Kembang Sari dan Suka Maju masih bisa dipanen, meski hasil produksi menurun akibat terendam banjir. Sementara Kelompok Tani Karang Pule, Pade Ate, dan Geguntur masih menunggu air surut untuk menentukan langkah lanjutan.
"Poktan Karang Pule, Pade Ate dan Geguntur masih menunggu air surut, untuk bisa mengambil tindakan selanjutnya," sambung Johari.
Sebelumnya, cuaca ekstrem yang melanda Kota Mataram menyebabkan sekitar 800 kepala keluarga (KK) atau 4.000 jiwa terdampak banjir rob dan luapan Sungai Jangkok. Lokasi terdampak tersebar di Jempong Baru, Tanjung Karang, hingga Ampenan Selatan dan Kelurahan Bintaro.
"Kalau kami totalkan ada 800 KK yang terdampak, ada yang karena abrasi, banjir rob, dan luapan Sungai Jangkok. (Lokasinya) di Kopajali Jempong Baru, Tanjung Karang, Ampenan Selatan di Penghulu Agung hingga di Kelurahan Bintaro, Ampenan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kalak BPBD Kota Mataram, Muzaki, saat diwawancarai detikBali, Senin (26/1/2026).
Pemkot Mataram telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari akibat bencana tersebut. Rumah yang rusak akibat bencana juga bakal diperbaiki. Anggaran perbaikannya mencapai Rp 65 juta untuk kategori rumah rusak berat.
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
(nor/nor)