Cuaca ekstrem akibat aktifnya Bibit Siklon Tropis 91S menerjang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua korban tertimbun longsor dan ratusan warga lainnya di Kampung Tuwa, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT, terpaksa mengungsi.
"Kampung yang terdampak ada dua, Kampung Tuwa dan Kampung Pau. Warga kedua kampung sudah mengungsi ke Kampung Rentung. Semuanya menyebar di rumah warga," ungkap Sekretaris Camat (Sekcam) Lamba Leda, Rikardus Samin, seusai meninjau lokasi longsor, Kamis (22/1/2026) malam.
Rikardus mengungkapkan sebagian warga juga mengungsi ke Kapela Stasi Meni. Menurutnya, Kampung Tuwa menjadi wilayah paling terdampak longsor itu. Ia menegaskan tim sudah berupaya mengevakuasi dua korban yang tertimbun material longsor, tetapi belum berhasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami lakukan upaya pencarian tadi. Dilanjutkan besok pagi (hari ini) karena cuaca tidak mendukung. Dua orang masih tertimbun," kata Rikardus.
Listrik dan Jaringan Internet Putus Total
Tanah longsor juga terjadi di sejumlah titik strategis di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT. Material longsor bahkan menutup badan jalan hingga arus lalu lintas lumpuh. Selain itu, aliran listrik dan jaringan internet di sejumlah wilayah di Manggarai Barat juga putus total.
"Dampak longsor telah merobohkan sejumlah tiang penyangga jaringan listrik. Akibatnya, pemadaman total terjadi di beberapa desa. Kondisi ini diperparah dengan lumpuhnya jaringan internet," kata warga setempat, Robert Perkasa, Kamis malam.
Camat Sano Nggoang, Alfonsius Arfon, mengatakan longsor terjadi di sejumlah ruas jalan di wilayahnya akibat hujan lebat di daerah tersebut. Ia mengatakan kerusakan jalan akibat longsor di ruas jalan antara Kampung Lara Mburak dan Lara Lujang adalah yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Di titik dekat Gua Lara, Alfons berujar, longsor mengakibatkan tebing curam sedalam 70-100 meter. Tembok penahan jalan sepanjang 40 meter saat ini dalam kondisi kritis dan terancam amblas sepenuhnya jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Ia mengatakan material longsor seperti tanah dan batu-batu besar menimbun badan jalan sepanjang 30 meter di Lara Lujang. Arus lalu lintas lumpuh total. "Kendaraan roda empat maupun roda dua sama sekali tidak bisa melintas," ujar Alfons.
Satu unit ekskavator dari Dinas PU Manggarai Barat telah tiba di lokasi pada Kamis malam. Pembersihan material longsor baru bisa dilakukan pada Jumat karena cuaca ekstrem masih melanda wilayah tersebut.
Dipicu Bibit Siklon Tropis 91S
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Patricia Christin Seran, mengungkap cuaca buruk yang melanda Labuan Bajo dan wilayah lainnya di Manggarai Barat, NTT, dipicu aktifnya Bibit Siklon 91S. Menurutnya, bibit siklon yang sempat muncul sebelumnya, yakni 97S, sudah berlalu.
"Cuaca ekstrem di Manggarai Barat yang terjadi sejak dini hari hingga sekarang dipicu oleh bibit siklon baru yaitu 91S yang berada di Samudra Hindia selatan NTB," jelas Maria, Kamis.
"Sistem ini meningkatkan suplai uap air dan pembentukan awan hujan tebal di wilayah Manggarai Barat," imbuhnya.
Berdasarkan prediksi Pusat peringatan dini siklon tropis atau Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pergerakan Bibit Siklon 91S cenderung meningkat dalam 24 jam ke depan.
"Berdasarkan prediksi TCWC BMKG, dalam 24 jam ke depan intensitas sistem ini diprakirakan akan cenderung meningkat dan pergerakan ke arah selatan - tenggara," jelas Maria.
(iws/iws)










































