detikBali

Viral Mobil Jenazah Terobos Banjir di Kupang Saat Antar Jasad Kaur Desa

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Viral Mobil Jenazah Terobos Banjir di Kupang Saat Antar Jasad Kaur Desa


Sui Suadnyana, Yufengki Bria - detikBali

Mobil jenazah menerobos banjir Sungai Neoelhaufeton, Desa Fatunaus, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (17/1/2026). (Tangkapan layar video viral)
Foto: Mobil jenazah menerobos banjir Sungai Neoelhaufeton, Desa Fatunaus, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (17/1/2026). (Tangkapan layar video viral)
Kupang -

Mobil jenazah menerobos banjir di Sungai Neoelhaufeton, Desa Fatunaus, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial (medsos). Mobil jenazah itu menerobos banjir saat mengantar jasad Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan Desa Fatunaus, Noldi Faris Nompetus, Sabtu (17/1/2026).

Video berdurasi 1 menit 8 detik yang beredar di medsos menunjukkan sejumlah warga berdiri di tengah banjir sebagai penanda agar mobil jenazah tak salah jalur saat menyeberang. Mereka terlihat memberi komando supaya sopir terus melajukan kendaraannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teriakan sahut-sahutan pun terhindarkan saat mobil jenazah menerobos banjir. Warga juga tampak berlari mengikuti mobil jenazah milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Kabupaten Kupang, tersebut hingga di pinggir kali.

"Mok moi fafon (lewat bagian atas)," teriak seorang pria tua menggunakan bahasa Dawan dialek Amfoang dalam video tersebut dilihat detikBali, Minggu (18/1/2026).

ADVERTISEMENT

Kepala Desa (Kades) Fatunaus, Jhoni Adu, mengatakan mobil jenazah menerobos banjir Sungai Neoelhaufeton sekitar pukul 15.00 Wita. Jhoni membenarkan mobil jenazah itu tengah mengangkut jasad Noldi.

Noldi, tutur Jhoni, mengembuskan napas terakhir di RSUD WZ Johannes Kupang pada Sabtu pagi. Setelah itu, jasad Noldi langsung diantar menggunakan mobil jenazah dari Kota Kupang ke Desa Fatunaus.

Jhoni mengungkapkan Sungai Neoelhaufeton merupakan satu-satunya akses vital bagi warga melalui jalur poros tengah atau melawati lereng Gunung Timau. Namun, hingga saat ini, sungai belum memiliki jembatan permanen sehingga cukup sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat saat terjadi banjir.

"Memang jembatan sudah ada sejak tahun 1990-an, tetapi sudah rusak. Jalan ini merupakan jalan satu-satunya yang masuk lewat dalam sungai. Kalau banjir berarti kendaraan roda dua maupun empat harus menunggu sampai banjir surut baru bisa menyeberang," jelas Jhoni.

Jhoni berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dan pemerintah pusat segera membangun jembatan permanen agar tidak memengaruhi aktivitas masyarakat saat musim hujan. Selain itu, distribusi obat-obatan dan kebutuhan medis ke Rumah Sakit Pratama (RSP) Amfoang di Desa Fatunaus bisa terhambat bila tak ada jembatan.

"Kami berharap kalau bisa diperhatikan jalan poros tengah Timau-Naikliu ini karena sekarang sebagai jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Amfoang Selatan, Amfoang Tengah, Amfoang Timur, Amfoang Utara, Amfoang Barat Laut, dan Amfoang Barat Daya," harap Jhoni.



(hsa/hsa)











Hide Ads