Dituding Rusak Terumbu Karang, Proyek Tanggul di Gili Meno Dikeluhkan

Ahmad Viqi - detikBali
Sabtu, 29 Nov 2025 14:11 WIB
Foto: Proyek tanggul di Gili Meno. (Dok Pribadi Adi)
Lombok Utara -

Aktivitas proyek pembangunan revetment atau tanggul di pesisir Pantai Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, NTB, mendapat keluhan dari sejumlah pihak. Selain menganggu wisata, proyek senilai Rp 70 miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di perairan di Gili Meno itu diduga merusak terumbu karang.

Direktur Jaringan Advokasi Rakyat NTB Adi Ardiansyah mengatakan aktivitas pembangunan revetment (bangunan pelindung abrasi) tepat 100 meter dari titik kedatangan wisatawan, memicu kecaman keras dari komunitas peduli lingkungan, pelaku wisata, dan turis asing.

Menurut Adi, proyek tersebut diduga telah menghancurkan terumbu karang dan biota laut yang menjadi aset paling berharga di Gili Meno.

"Proyek ini menciptakan pemandangan yang benar-benar merusak mata di gerbang utama pariwisata Gili Meno," kata Adi, Sabtu (29/11/2025).

Dari hasil investigasi di lokasi, Adi mengaku menemukan ekskavator beroperasi sekitar terumbu karang yang berpotensi merusak terumbu karang dan lingkungan di sekitar proyek.

"Kami melihat banyak tumpukan beton kini menjulang sekitar 1,5 meter di atas permukaan air, jauh berbeda dengan penampakan terumbu karang alami," katanya.

Adi pun meminta kepada Pemkab Lombok Utara dan Pemprov NTB untuk mengambil tindakan segera untuk menghentikan semua aktivitas proyek yang berpotensi merusak lingkungan lebih jauh.

"Kami desak juga melakukan kajian mendalam dan membuka dokumen perencanaan termasuk kajian Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) UKL (upaya pemantauan lingkungan) dan RPL (rencana pengelolaan lingkungan) kepada publik," katanya.

Salah satu wisatawan Australia, Grace Shopia, mengaku kecewa dengan aktivitas pembangunan tanggul di tepi Pantai Gili Meno itu. "Pekerjaan ini bisa merusak lingkungan dan keindahan alami Gili Meno," cetusnya.



Simak Video "Video Laporan Ilmuwan: 80% Terumbu Karang Tropis Dunia Mati"

(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork