Pria bernama Yanto Kristo Benu (32) ditemukan tak bernyawa di Wilma Penginapan 1, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kejadian tersebut membuat sejumlah karyawan panik dan ketakutan.
"Awalnya saya ketuk pintu tiga kali tapi tidak ada jawaban sehingga teman saya bilang itu sepertinya tidak ada orang. Sehingga saya merasa ketakutan dan panik begitu," ujar karyawan Wilma Penginapan 1, Risna Goi (25), saat diwawancarai di lokasi, Selasa (4/8/2026) dini hari.
Risna menuturkan kala itu kamar tersebut tampak gelap karena lampunya tak dihidupkan. Merasa penasaran, Risna memberanikan diri untuk membuka pintunya. Kala itu, ia melihat sesosok bayangan di bawah tempat tidur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian memanggil seorang temannya agar menghidupkan laser ponselnya. Betapa kagetnya Risna saat melihat Yanto dalam posisi terlungkup tanpa busana di bawah tempat tidur.
"Saya pas senter begini, saya melihat dalam kondisi telanjang. Saya langsung kaget dan gugup. Terus saya dengan teman langsung lari keluar," tutur Risna.
Meski demikian, Risna tak menyangka Yanto sudah tewas. Sebab, dirinya mengira mungkin dalam kondisi mabuk berat. Namun, salah satu karyawan memastikan pria itu tak lagi bernyawa, kemudian melaporkan kejadian tersebut ke aparat.
"Saya kira dia mabuk, ternyata sudah meninggal saat dicek oleh teman," kata perempuan asal Bajawa Kabupaten Ngada, NTT itu.
Sementara itu, adik kandung korban, Yohanis Imanuel Benu (22), menyebut kakaknya itu selama ini bekerja di gudang MPM Motor yang terletak di Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Ia disebut sudah bekerja sekitar 10 tahun.
"Awal kakak masuk kerja, dia sebagai sopir yang antar motor ke beberapa daerah, tapi saat ini dia kerja di gudang saja," kata Yohanis.
Menurut Yohanis, saat pergi meninggalkan rumahnya, Yanto tak lagi mengangkat ponselnya walau dihubungi berulang kali oleh istri dan keluarganya. Hal itu membuat keluarga sempat khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Sebelum pamit, Yanto memberitahukan dirinya mau pergi ke rumah bosnya untuk selanjutnya bersama-sama mengantar beras. Sepengetahuan keluarga, Yanto akan kembali sehari setelahnya.
"Jadi biasanya begitu kalau dengan bos, kami tahu saja pasti kakak pulang satu hari kemudian. Sehingga saat itu, kami tidak cari karena tahu saja dengan bos," beber Yohanis.
Memasuki Minggu (2/8/2026) pagi, Yohanis dan ayahnya mulai merasa khawatir. Sang ayah lalu memerintahkan Yohanis untuk menelepon Yanto. Tetapi ponselnya tak aktif lagi.
"Itu kami telepon biasa dari pagi sampai jam 11 malam tidak aktif-aktif juga sehingga Bapak bilang ini sudah tengah malam jadi besok saja baru kita pergi lapor ke polisi," terang Yohanis.
Selanjutnya pada Senin pagi, ayah Yanto bersama seorang anak perempuannya langsung mendatangi Mapolresta Kupang Kota untuk membuat laporan orang hilang.
"Sampai sana polisi buat poster berita kehilangan untuk disebarkan ke media sosial," imbuh Yohanis.
Singkatnya, informasi meninggalnya Yanto baru didapati dari seorang tetangga bernama Eto sekitar pukul 23.30 Wita. Saat itu, Eto menyampaikan kepada keluarga bahwa Yanto ditemukan di Wilma Penginapan.
"Kakak Eto bilang cepat dengan keluarga ke Wilma Penginapan karena sudah banyak polisi di sana," urai Yohanis.
Dalam perjalanan ke lokasi, Yohanis hanya mendoakan agar kakaknya itu dalam kondisi baik-baik saja. Namun, saat tiba, polisi memberitahukan bahwa Yanto sudah meninggal dengan posisi terlungkup.
"Saya dalam hati semoga kakak baik-baik saja meskipun ada masalah apapun itu. Tapi pas sampai sini, polisi beritahu bahwa kakak sudah meninggal dengan posisi terlungkup," pungkas Yohanis.
Diberitakan sebelumnya, polisi mengungkap fakta baru dalam kasus tewasnya Yanto Kristo Benu (32) di Wilma Penginapan 1, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelum ditemukan meninggal di dalam kamar, Yanto diketahui sempat check in bersama seorang perempuan yang kini masih didalami identitasnya.
"Dari keterangan sementara, memang dengan teman perempuan yang ikut masuk saat pemesanan kamar," ujar Kasatreskrim Polres Kupang AKP Helmi Wildan saat diwawancarai di lokasi, Selasa (4/8/2026).
Wildan mengatakan perempuan tersebut belum diketahui identitasnya karena tidak tercatat dalam daftar check in penginapan. Berdasarkan keterangan saksi, perempuan itu juga disebut tidak menginap.
"Berdasarkan keterangan-saksi tadi, perempuan tersebut tidak menginap dan kami masih dalami," ungkap Wildan.