Rumah Residen Soenda Ketjil di Singaraja Kini Disulap Jadi Warung Heritage

Made Wijaya Kusuma - detikBali
Minggu, 09 Agu 2026 12:23 WIB
Foto: Suasana Warung Soenda Ketjil di kawasan titik nol Singaraja, Buleleng, Minggu (9/8/2026). Foto : Made Wijaya Kusuma
Buleleng -

Di balik rindangnya pepohonan tua di pusat Kota Singaraja, Buleleng, Bali, sebuah bangunan berusia lebih dari satu abad kembali menemukan kehidupannya.

Rumah tua yang dahulu menjadi rumah jabatan Residen Soenda Ketjil pada masa pemerintahan kolonial Belanda itu kini tak lagi identik dengan kesan sepi dan angker. Bangunan bersejarah tersebut bertransformasi menjadi Warung Soenda Ketjil, tempat makan bernuansa vintage yang mengajak pengunjung menikmati kuliner sekaligus menelusuri jejak sejarah Bali Utara.

Bangunan tersebut diperkirakan dibangun sekitar 1912. Rumah ini menjadi salah satu bagian dari jejak pemerintahan kolonial Belanda di Singaraja, yang pada masa itu menjadi pusat pemerintahan wilayah Soenda Ketjil.

Salah satu tokoh yang pernah menempati rumah tersebut adalah I Gusti Bagus Oka. Setelah itu, bangunan tersebut dihibahkan kepadanya dan kemudian menjadi bagian dari aset keluarga yang diwariskan secara turun temurun.

Salah satu owner Warung Soenda Ketjil, Ida Ayu Wardhany Sutjidra, mengatakan keberadaan rumah tersebut menjadi salah satu alasan dirinya ingin menghadirkan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, tetapi juga tetap mempertahankan nilai sejarah bangunan

Menurut Wardhany, selama ini masyarakat membutuhkan ruang untuk sekadar beristirahat, duduk santai, berkumpul, atau menikmati minuman dan makanan di tengah Kota Singaraja.

"Di mana ya kita bisa istirahat, duduk-duduk? Di mana kita bisa minum-minum sedikit?" kata Wardhany, Minggu (9/8/2026).

Rumah Tua Disulap Jadi Resto Heritage

Suasana Warung Soenda Ketjil di kawasan titik nol Singaraja, Buleleng, Minggu (9/8/2026). Foto : Made Wijaya Kusuma

Gagasan menghidupkan kembali rumah tersebut muncul ketika pemilik rumah, yang merupakan teman Wardhany sejak sekolah, mempercayakan pengelolaannya kepadanya. Wardhany kemudian mengusulkan agar rumah tersebut dimanfaatkan sebagai restoran dengan konsep heritage.

"Saya mengajukan, apakah boleh rumah ini dipakai untuk tempat seperti sekarang, yaitu resto heritage, warung yang heritage?" ujarnya.

Konsep itu kemudian diterapkan dengan mempertahankan sebanyak mungkin bagian asli bangunan. Tidak ada perubahan besar terhadap bentuk rumah maupun pemindahan benda-benda peninggalan yang masih tersimpan di dalamnya.

"Permintaannya tidak boleh mengubah bentuk asli, tidak boleh melakukan pemindahan barang-barang yang sifatnya barang peninggalan," kata dia.

Foto-foto lama, kursi, meja, serta sejumlah perabot yang telah ada sejak dahulu tetap dipertahankan. Penambahan hanya dilakukan secara terbatas, seperti lampu untuk membuat ruangan lebih terang dan sejumlah kursi tambahan karena keterbatasan tempat duduk.

"Apapun yang ada di sini saya coba kelola secara heritage. Kursi-kursi ini juga kursi zaman dulu. Tidak ada yang diubah," ujarnya.

Saat ini, Warung Soenda Ketjil mampu menampung sekitar 60 pengunjung. Kapasitas tersebut masih berpeluang ditambah dengan memanfaatkan area taman ketika kondisi sudah lebih teduh.

Simak Video "Video: ASITA Bali Buka-bukaan Soal Peluang Bisnis Pariwisata di Era Perang Timur Tengah"


(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork