Nusra Sepekan

Terpopuler: Mahasiswa Bunuh Pemerkosa Pacar hingga Pelecehan di Ponpes Lombok

Tim detikBali - detikBali
Minggu, 27 Sep 2026 18:26 WIB
JK (wajah diblur) diamankan polisi seusai membunuh Insan di Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, NTB, Rabu (23/9/2026). (Foto: Dok. Polsek Langgudu)
Mataram -

Tiga peristiwa di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi perhatian publik sepanjang pekan ini. Kasus tersebut meliputi pekerja migran Indonesia (PMI) asal Mataram yang mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar, dugaan kekerasan seksual di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Lombok Tengah, serta pembunuhan di Kabupaten Bima.

PMI bernama Muhamad Yanuar Fikri (26) viral setelah meminta pertolongan agar dipulangkan dari Myanmar. Ia mengaku dijanjikan bekerja sebagai trading, tetapi justru diminta bekerja sebagai scam. Yanuar juga mengaku sedang sakit dan keluarganya diminta menyiapkan uang tebusan Rp 70 juta.

Di Lombok Tengah, rekaman suara pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat, Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, viral di media sosial terkait kasus dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati. Imanuddin membantah tuduhan tersebut dan memilih mundur dari pimpinan ponpes.

Sementara itu, mahasiswa berinisial JK (19) ditetapkan sebagai tersangka setelah membunuh Ihsan (22) di Pantai Wadu Baba, Bima. Polisi menyebut JK diduga sakit hati setelah melihat pacarnya, AL (16), diperkosa bergilir oleh tiga orang, salah satunya Ihsan.

PMI Mataram Minta Tolong dari Myanmar

Tangkapan layar Muhamad Yanuar Fikri (26) PMI asal Kota Mataram diduga menjadi korban TPPO di Myanmar. Foto: Dok. Istimewa

Video Muhamad Yanuar Fikri (26), PMI asal Mataram, viral di media sosial. Dalam video berdurasi 56 detik, Yanuar meminta bantuan Disnaker NTB agar segera dipulangkan.

Yanuar mengaku awalnya dijanjikan bekerja sebagai trading di Myanmar. Namun, setibanya di sana, ia justru disuruh bekerja sebagai scam.

"Tolong bantu saya. Saya sudah kena tipu di Myanmar. Awalnya dijanjikan kerja trading, tapi sampai disini saya disuruh kerja scam. Keadaan saya sekarang lagi sakit. (Katanya) saya mau dijual ke kompenin lain, karena saya sakit," kata Yanuar dalam video yang dilihat detikBali, Jumat (25/9/2026).

Yanuar juga mengaku diminta menghubungi keluarganya di Indonesia untuk meminta uang tebusan Rp 70 juta.

"Ini saya lagi diam-diam buat ambil videonya di dalam mes. Saya disuruh hubungi keluarga saya di Indonesia, buat minta tebusan Rp 70 juta," terangnya.

Pemprov NTB kemudian berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk melacak keberadaan Yanuar.

Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Disnaker NTB, Pradiptha Himawan Putra, mengatakan keberadaan Yanuar telah teridentifikasi di sekitar Asia Road, Myawaddy, Myanmar.

"Berdasarkan komunikasi awal, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan tiba di Myanmar melalui Bandara Yangon sekitar 15 September 2026. Dan perkembangan terbaru per hari ini, lokasi keberadaan Muhamad Yanuar Fikri telah berhasil diidentifikasi. Yakni di sekitar Asia Road, Myawaddy, Myanmar," kata Pradiptha, Jumat (25/9/2026).

Pradiptha mengatakan keberadaan Yanuar di Myawaddy belum otomatis membuktikan dirinya merupakan korban TPPO atau bekerja di scam centre. KBRI Yangon masih melakukan verifikasi.

"Keberadaan yang bersangkutan di kawasan Myawaddy tidak dengan sendirinya membuktikan merupakan korban TPPO atau bekerja pada scam centre. Hal tersebut masih memerlukan verifikasi langsung oleh KBRI Yangon dan otoritas terkait," ujarnya.

Pemprov NTB kini berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan keluarga Yanuar untuk memastikan keselamatan, lokasi, akses, serta mekanisme penjemputan dan pemulangan ke Indonesia.

Simak Video "Video Penangkapan Buron Pemerkosa-Pembunuh Tante Sendiri di Sulteng"


(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork