Kepergian I Gede Selamet, sopir truk yang diduga dibakar bosnya sendiri, meninggalkan pukulan berat bagi keluarga. Selamet merupakan tulang punggung keluarga yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sepupu I Gede Selamet, I Komang Kartika, mengatakan kondisi ekonomi keluarga Selamet juga bergantung pada penghasilannya. Ibu Selamet sehari-hari bekerja sebagai pedagang dengan penghasilan yang tidak seberapa. Sementara ayahnya bekerja sebagai buruh harian.
"Iya, dia tulang punggung. Karena ibunya juga kan kerja sebagai pedagang. Kalau ada upacara, dia kerja sebagai pedagang jual-jual minuman, jual nasi. Itu pun penghasilannya tidak seberapa, paling Rp100.000. Dan ayahnya juga kerja sebagai buruh harian, kayak cuci truk, bongkar pasir," katanya saat ditemui di dekat ruang Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaraan Jenazah, Jumat (25/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartika mengatakan keluarga sangat terpukul atas kepergian Selamet, terutama ibunya. Terlebih, Selamet merupakan anak pertama dan masih bujang.
"Terutama ibunya sih sedih sekali. Kan ini anak pertamanya, masih bujang juga, gitu. Sangat-sangat sedih sih kehilangannya," lanjutnya.
Sementara itu, biaya perawatan Selamet selama di rumah sakit hingga saat ini mencapai sekitar Rp 88 juta. Namun, Kartika mengatakan jumlah tersebut belum final.
Keluarga masih mengandalkan bantuan donasi untuk memenuhi biaya perawatan Selamet. Salah satunya bantuan sebesar Rp 25 juta dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Kalau dari Wapres itu sendiri 25 (juta). Kalau yang kita dari donasi dari teman-teman, dari keluarga gitu 25 (juta)-an sekian sih. Belum dari teman-teman yang lain juga, dari koperasi," katanya.
Saat ini, jenazah Selamet masih menjalani autopsi atas permintaan pihak kepolisian. Setelah proses tersebut selesai, jenazah akan dipindahkan ke ruang jenazah RSUP Prof Ngoerah.
Kartika mengatakan keluarga berencana memulangkan jenazah Selamet pada 6 Oktober 2026. Keluarga masih membahas lokasi pelaksanaan upacara.