I Gede Selamet, sopir yang dibakar bosnya sendiri, akhirnya meninggal dunia setelah tujuh hari menjalani perawatan di RSUP Prof Ngoerah Denpasar. Selamet mengalami luka bakar sekitar 68 persen dan trauma inhalasi rencananya dipulangkan pada 6 Oktober 2026.
Selamet dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (25/9/2026) sekitar pukul 07.51 Wita. Sebelum meninggal, kondisinya terus memburuk akibat kerusakan pada saluran napas dan paru-parunya setelah menghirup uap panas saat kejadian.
Kepala ICU Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, I Putu Kurniyanta, mengatakan selama tujuh hari menjalani perawatan, Selamet mendapat sejumlah tindakan medis, mulai dari pembersihan luka, pemberian cairan dan antibiotik hingga mengamankan jalan napas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tim kami sudah menjalankan tindakan resusitasi awal, jadi pembersihan luka pembersihan luka semuanya, dan mengamankan jalan napas karena kami kecurigaan pada saat awal itu adalah trauma inhalasi," ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Perawatan luka kemudian dilakukan pada hari ketiga. Namun, pada hari keempat kondisi Selamet mulai tidak stabil.
"Nah, hari keempat kondisi masih berfluktuasi, jadi cenderung panas. Kemudian naik turun panasnya sudah kami juga berikan anti penurunan panasnya juga, kemudian antibiotika juga," lanjutnya.
Kurniyanta mengatakan kondisi Selamet kemudian semakin memburuk akibat kerusakan pada saluran napas dan paru-parunya. Kerusakan tersebut terjadi karena Selamet menghirup uap panas saat kejadian.
"Hari keempat sampai hari ke-6, hari ke-7 itu terjadi goncangan hemodinamiknya karena memang uap panas yang masuk ke dalam saluran napas dan paru-parunya ini cukup melukai organ-organ di dalamnya, sehingga banyak terjadi kerusakan di jalan napas dan di paru-parunya," katanya.
Pada hari keenam, tim medis kemudian memberikan obat penguat jantung. Memasuki hari ketujuh, dilakukan pijat jantung. Namun, kondisi Selamet tidak menunjukkan respons.
Kurniyanta mengungkapkan, pihaknya sebenarnya berencana kembali melakukan perawatan luka pada Jumat. Namun, rencana tersebut belum sempat dilakukan karena kondisi Selamet semakin memburuk.
"Rencananya sebenarnya hari ini kita lakukan rawat dua luka lagi yang lebih luas lagi, tetapi kondisi sudah memburuk, jadi belum sempat kami lakukan untuk perawatan luka yang kedua," tandasnya.
Selamet akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 07.51 Wita.
Sementara itu, sepupu Selamet, I Komang Kartika, mengatakan jenazah Selamet saat ini masih menjalani autopsi atas permintaan pihak kepolisian.
"Saya di sini masih menunggu selesai otopsi. Tadi di perkiraan 3 sampai 4 jaman baru selesai katanya. Baru nanti dikirim ke gini, ruang jenazah. Mau dimasukkan ke freezer," katanya saat ditemui di dekat ruang Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaraan Jenazah.
Kartika mengatakan keluarga masih membicarakan lokasi pelaksanaan upacara sebelum jenazah dipulangkan. Keluarga berencana memulangkan jenazah Selamet pada 6 Oktober 2026.
"Kepulangannya sih rencana tanggal 6. Karena sekarang kan masih dirembukin di rumah, di mana enaknya. Mau diadain upacara di daerah mana, Denpasar atau gimana. Terus tadi disuruh dipulangin tanggal 6," imbuhnya.
Sebelumnya, I Gede Selamet, seorang sopir truk asal Desa Muncan, Karangasem, diduga dibakar oleh bosnya sendiri karena perkara uang setoran. Akibat kejadian tersebut, Selamet mengalami luka bakar serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Selamet akhirnya meninggal dunia setelah mengalami luka bakar sekitar 68 persen dan trauma inhalasi yang menyebabkan kerusakan cukup luas pada jaringan paru-parunya.
(dpw/dpw)