Pemerintah Iran memperingatkan negara-negara tetangganya agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan ke Teheran. Iran menegaskan negara mana pun yang memfasilitasi serangan akan dianggap sebagai musuh.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Ketegangan kian terasa setelah militer AS mengumumkan kapal induk USS Abraham Lincoln, yang didampingi tiga kapal perang bersenjata rudal Tomahawk, telah memasuki wilayah tanggung jawab Pusat Komando AS (CENTCOM) di Timur Tengah pada Senin (26/1) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS Donald Trump kemudian menyebut keberadaan armada besar di dekat Iran seusai pengumuman pengerahan USS Abraham Lincoln tersebut.
Peringatan Iran ke Negara Tetangga
Reaksi keras datang dari Garda Revolusi Iran (IRGC). Seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (28/1/2026), IRGC melontarkan peringatan tegas kepada negara-negara tetangga Iran, terutama yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.
"Negara-negara tetangga adalah teman-teman kita, tetapi jika wilayah mereka, wilayah udara atau perairan mereka digunakan untuk melawan Iran, mereka akan dianggap bermusuhan," tegas Deputi Politik Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, dilansir dari detikNews, Rabu (28/1/2026).
Pernyataan itu disampaikan setelah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran.
Hubungan Iran dan AS kian memburuk menyusul unjuk rasa antipemerintah di berbagai wilayah Iran. Ribuan demonstran dilaporkan kehilangan nyawa akibat penindakan keras aparat Teheran.
Awal bulan ini, Trump hampir memerintahkan serangan terhadap target rezim Iran terkait pembunuhan ribuan demonstran tersebut. Namun keputusan itu ditunda, meski AS tetap mengerahkan aset militernya ke kawasan Timur Tengah.
Akbarzadeh menegaskan Iran tidak menginginkan perang, tetapi "sepenuhnya siap" menghadapi segala kemungkinan. Dia juga menegaskan Teheran "tidak akan mundur bahkan satu milimeter pun" jika konflik meletus.
Selain memperingatkan negara-negara tetangga, Akbarzadeh juga mengancam akan menutup Selat Hormuz jika perang terjadi. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Iran sebelumnya beberapa kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika konflik pecah, namun ancaman tersebut belum pernah direalisasikan.
"Iran memiliki intelijen secara real-time di Selat Hormuz, di atas dan di bawah permukaan, dan keamanan jalur strategis ini bergantung pada keputusan Teheran," ujarnya.
"Kami tidak ingin ekonomi dunia menderita, tetapi Amerika dan para pendukungnya tidak akan mendapat keuntungan dari perang yang mereka mulai," tegas Akbarzadeh.