Pertenunan Seroja, sebuah usaha pertenunan kain endek di Pemecutan Kelod, Denpasar Barat, kini menghadapi ancaman kepunahan. Mandeknya regenerasi penenun membuat perajin yang bertahan kini dipenuhi kalangan lanjut usia.
Pertenunan Seroja yang dijalankan Made Rai Sudani merasakan dampak tersebut. Usaha yang telah berdiri sejak 1960-an itu pernah berjaya dan mempekerjakan hingga sekitar 50 perajin. Kini, jumlah pekerjanya menurun drastis, hanya tersisa enam orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga penenun masih bekerja di lokasi usaha, dua lainnya mengerjakan dari rumah, sementara satu perajin senior bertanggung jawab membuat pola dan motif atau nganyin.
"Yang nenun tiga, ada juga yang kerja di rumahnya lagi dua, yang tukang nganyinnya satu. Berarti enam orang punya tukang," ujarnya saat ditemui Kamis, (30/7/2026).
Penenun lansia di Pertenunan Seroja, Denpasar sedang menyelesaikan kain tradisional endek, Kamis (30/7/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali) |
Seluruh perajin yang tersisa rata-rata berusia di atas 60 hingga 70 tahun. Ironisnya, tidak ada generasi muda maupun anak-anak dari para perajin yang bersedia meneruskan profesi ini.
"Nggak ada orang mau belajar nenun," tuturnya.
Bahkan untuk pembuatan pola dan pengikatan motif (mempen), usaha ini hanya mengandalkan seorang perajin yang sudah lansia. Keadaan tersebut memicu kekhawatiran Rai akan kelangsungan usaha jika sang perajin sudah tidak sanggup bekerja lagi.
Proses Menenun Endek yang Rumit
Rai menjelaskan proses pembuatan endek memakan waktu hingga satu bulan. Pembuatan diawali dari penggulungan benang putih dan pencelupan awal. Jika menggunakan teknik lusi, benang yang telah digulung akan masuk ke proses nganyin.
"Dari ngulung benang, benang putihnya dicelup dulu, habis dicelup digulung. Habis digulung ada yang proses pakai endek, dua jenisnya. Ada yang dari lusi, ada yang dari endek. Kalau dari lusi, habis digulung dia itu nganyin namanya," jelas perempuan 65 tahun itu.
Sementara pada teknik endek, benang yang telah digulung kemudian diikat atau mempen, dan lanjut dicelup dengan warna. Setelah proses pencelupan selesai, ikatan dibuka sehingga motif mulai terlihat. Benang kemudian menjalani proses pencatrian atau pewarnaan sebelum kembali digulung dan siap ditenun.
"Kalau dari endek habis digulung tuh dia bikin gini, mempen namanya. Habis tuh baru diikat. Habis diikat dicelup, habis dicelup lagi dibuka. Ikatnya udah kelihatan motifnya. Lagi dicatri. Biar warna-warni itu. Itu kan ada orang nyatri ya. Habis tuh lagi digulung, baru bisa ditenun. Makanya lama," imbuhnya.
Keterbatasan tenaga kerja dan kondisi fisik perajin membuat Rai tidak berani mengambil pesanan kain dalam jumlah besar atau dengan target waktu yang ketat.
"Kalau sekarang tidak berani menerima pesanan karena pekerjanya sedikit," ungkapnya.
Saat ini, produksi rata-rata hanya mencapai 100 lembar kain per bulan dengan ukuran dua meter per lembar. Hasil produksi disalurkan ke pembeli perorangan, pasar tradisional seperti Pasar Badung dan Gianyar untuk kebutuhan kain upacara, serta art shop di kawasan wisata Sanur. Harga kain bervariasi antara Rp 130 ribu hingga Rp 200 ribu per lembar, tergantung jenis dan kerumitan motif.
Penjualan Online
Di tengah ancaman gulung tikar, sedikit harapan muncul melalui penjualan digital. Sonia Melati, putri dari Rai Sudani, mulai memanfaatkan platform online seperti Instagram, Threads, dan Shopee untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Penenun lansia di Pertenunan Seroja, Denpasar sedang menyelesaikan kain tradisional endek, Kamis (30/7/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali) |
Hasilnya, pemasaran yang dulunya hanya mengandalkan pelanggan tetap di Pasar Badung atau pengepul yang datang ke rumah, kini menembus pasar luar daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta. Langkah ini berhasil menyelamatkan stok kain yang menumpuk dan tidak terjual.
"Kalau dulu, tuh, paling kakak saya cuma jualinnya ke Sanur, ke hotel atau ada yang ngambil ke rumah. Ibu saya juga jualin ke Pasar Badung. Kalau sekarang karena ada online-nya, jadi sisa-sisa yang di sini kejual lagi," ujar perempuan 25 tahun tersebut.
Sebagai generasi penerus, Sonia mengaku tertarik pada kelestarian endek, namun ia mengakui kesulitan mempelajari teknik dasar menenun yang rumit. Tantangan terbesar baginya ada pada perhitungan awal pembuatan pola dan motif, seperti menentukan jumlah helai benang yang harus diikat serta menghitung presisi jarak antar-motif.
"Ngitung untuk buat polanya itu susah. Jadi kayak di tenun kan ada motifnya, biar mau dia kayak buat ikatannya itu loh, dari awal prosesnya tuh. Kayak berapa helai benang yang kita ikat, terus jarak dari motif pola yang satu sama yang kedua itu berapa jauh, kayak gitu susahnya," jelasnya.
Sonia berharap ada perhatian lebih terhadap keberlanjutan pembuatan endek melalui program pelatihan dan pemberdayaan, sehingga tradisi ini tidak terhenti pada generasi tua semata.
"Mungkin kayak pemberdayaan gitu sih yang aku harapin. Biar ibu-ibu ada generasi baru gitu yang mau belajar tentang tenun. Enggak cuman Ibu-Ibu aja, tapi mungkin ada anak-anak muda gitu yang tertarik untuk belajar tenun lagi," harapnya.
(hsa/nor)

