Prosesi kremasi atau pelebon Ida Pedanda Istri Purnama di kawasan Taman Dedari, Banjar Bunutan, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, mengundang rasa penasaran turis asing yang tengah berlibur di kawasan tersebut.
"Apakah boleh ikut iring-iringan," kata Pedro, turis asal Brasil saat menonton barisan iring-iringan bade Ida Pedanda Istri Purnama di Jalan Raya Kedewatan, Ubud, Gianyar, Minggu (24/5/2026).
Pedro bersama pasangannya, Flavia, menginap di hotel The Royal Pita Maha. Hotel itu berada di kawasan Taman Dedari, tak jauh dari lokasi kremasi Ida Pedanda Istri Purnama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asal Brasil itu mengaku baru mengetahui prosesi upacara pelebon dari staf hotel tempatnya menginap. Sebagai turis asing yang baru pertama kali datang ke Bali, kabar itu memicu rasa penasaran Pedro.
"Baru kali pertama saya menyaksikan upacara ini. Tapi saya tahu ini adalah upacara kremasi," kata Pedro.
Hal serupa dirasakan Mariska, turis asal Jerman. Dia sengaja datang untuk menyaksikan prosesi pelebon dengan berjalan mengikuti iring-iringan jenazah Ida Pedanda Istri Purnama hingga lokasi kremasi di kawasan Taman Dedari.
"Keramaian (upacara palebon) cukup mengesankan dan saya penasaran jika dibolehkan ikut iring-iringan," kata Mariska.
Mariska mengatakan dirinya menginap di hotel sekitar Jalan Raya Kedewatan, tak jauh dari kawasan Taman Dedari. Informasi tentang upacara pelebon itu didapat dari staf hotel tempatnya menginap sejak dua hari lalu.
Hal itu membuatnya ingin melihat secara langsung prosesi kremasi tradisional di Bali. Perempuan asal Jerman itu mengaku terkesan melihat keramaian dan iring-iringan pelebon Ida Pedanda Istri Purnama.
"Saya diberi tahu staf hotel tentang kegiatan ini dua hari lalu. Ternyata cukup mengesankan," katanya.
Pantauan detikBali, jenazah Ida Pedanda Istri Purnama mulai dibawa dan dinaikkan ke bade setinggi sekitar 3 meter pada pukul 12.43 Wita. Barisan pemain baleganjur atau gamelan Bali, patung lembu setinggi 4 meter sebagai tempat kremasi, serta bade kemudian bersiap mengarak jenazah dari Jalan Raya Kedewatan menuju kawasan Taman Dedari.
Sesuai adat, barisan paling depan diisi para pemain baleganjur atau gamelan Bali. Setelah itu, diikuti arak-arakan lembu yang dibawa menyerupai ogoh-ogoh. Di belakangnya, bade yang membawa jenazah Ida Pedanda Istri Purnama turut diarak menuju lokasi kremasi.
Tampak belasan turis asing ikut dalam iring-iringan tersebut. Mereka berjalan di barisan paling belakang dengan mengenakan pakaian adat Bali lengkap atau hanya memakai kamen.
Tak lama berselang, jenazah Ida Pedanda Istri Purnama dimasukkan ke dalam lembu dan dikremasi pada pukul 15.28 Wita. Lembu yang dibakar sebagai bagian dari tata cara pelebon itu disaksikan ratusan warga Desa Bunutan.
Sosok Ida Pedanda Istri Purnama
Ida Bagus Suarbawa mengatakan ibunya merupakan pemimpin agama Hindu yang dianggap suci se-Bali. Secara pribadi, sosoknya juga dihormati dan dianggap suci oleh masyarakat Banjar Bunutan.
"Sebagai Ida Pedanda, ya dianggap suci se Bali. Tapi sosoknya dianggap suci, khususnya masyarakat Banjar Bunutan," kata Suarbawa.
Suarbawa menuturkan, semasa hidup, ibunya dikenal sebagai sosok ibu rumah tangga yang tangguh dan taat beragama. Pada 1994, Istri Purnama resmi menjadi pemimpin agama Hindu tertinggi di Bali.
Ida Pedanda Istri Purnama merupakan keturunan ke-6 dari para pedanda di Griya Gede Bongkasa Kedewatan. Selama 40 tahun, Istri Purnama menjadi pemimpin dan pengayom spiritual umat Hindu di Banjar Bunutan serta sejumlah desa lain di Bali.
"Pastinya sosok dianggap suci di Desa Bunutan. Tapi, beliau muput atau memimpin upacara agama hingga selesai. Sesekali di beberapa pura di desa lain juga," katanya.
(dpw/dpw)










































