Umat Katolik di seluruh dunia tengah bersiap dalam merayakan Paskah, tak terkecuali di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Flores mempunyai tradisi dalam momentum Paskah.
Wilayah Larantuka adalah daerah dengan penganut Katolik yang tinggi. Di sini berdiri juga Katedral Reinha Rosari sebagai pusat keagamaan dan ziarah di Larantuka. Tradisi Semana Santa di Larantuka ditunggu-tunggu Umat Katolik setiap tahunnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Perayaan Semana Santa?
Semana Santa berasal dari bahasa latin yang berarti pekan suci. Rangkaiannya dimulai dari Minggu Palma hingga Minggu Paskah. Selama Semana Santa, peziarah dari berbagai tempat akan berdatangan ke sini.
Tradisi Semana Santa diperkirakan muncul setelah adanya pengaruh kekatolikan di Larantuka. Bermula dari ditemukannya sebuah patung di pantai dan disimpan oleh masyarakat sebagai benda keramat. Orang portugis yang datang kemudian mengenali patung tersebut sebagai Bunda Maria. Masyarakat Larantuka menyebut patung tersebut sebagai "Tuan Ma".
Masyarakat Larantuka sempat tidak memiliki pastor selama beberapa puluh tahun. Demi menjaga keteguhan iman mereka berdoa setiap sabtu dan melakukan pengarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana atau Yesus. Prosesi perayaan Semana Santa dilakukan sejak Minggu Palma dan berpuncak ketika Jumat Agung.
Intensitas perayaan meningkat sejak Rabu Trewa ketika mereka membunyikan dan berteriak "trewa". Setelah itu berlangsung masa tenang, di sini juga masyarakat mendirikan pagar untuk memasangkan lilin sebagai penerang jalan yang akan dilewati saat prosesi pengarakan.
Kamis Putih menjadi hari ketika patung Tuan Ma dan Tuan Ana dibuka dari peti setelah disimpan selama setahun di kapel. Khusus patung Tuan Ma diberikan pakaian yang menyimbolkan kedukaan. Pakaian berkabung itu memiliki ciri berbahan mantel beludru hitam, ungu, atau biru. Besoknya atau Jumat Agung adalah puncak perayaan Semana Santa.
Dikenal juga dengan nama Sesta Vera yang diserap dari bahasa Portugis dengan arti hari keenam atau jumat. Selama seharian penuh, Umat Katholik akan menjalani berbagai aktivitas keagamaan dengan khidmat. Dimulai dari kegiatan mencium patung Tuan Ma dan Tuan Ana di masing-masing kapel. Setelah itu adalah mengarak patung Tuan Meninu.
Patung Tuan Meninu adalah patung Yesus dalam wujud kanak-kanaknya. Juga dilakukan pengarakan terhadap patung Tuan Misericordiae dari kapelanya. Siang hari sekitar pukul satu siang dilakukan pengarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana. usai mengarak, masyarakat akan melakukan misa di Katedral pada pukul enam sore.
Puncaknya adalah malam hari setelah misa Jumat Agung. Ribuan masyarakat yang terdiri Umat Katolik bahkan yang bukan penganut Katolik ikut serta dalam rangkaian arak-arakan. Pawai ini menempuh jarak sekitar 7,5 kilometer. Arak-arakan mengelilingi Kota Larantuka, Flores, NTT.
Bunda Maria dan Peneguhan Iman Katolik
Bunda Maria sebagai figur seorang ibu yang kehilangan anaknya menjadi fokus utama dalam Semana Santa. Patung Tuan Ma mendapat perhatian khusus dalam pawai ini memang bisa dilihat dari penghormatan yang dilakukan masyarakat. Memang sosok Bunda Maria dimuliakan di negara-negara Katolik, tetapi hal ini merupakan warisan leluhur sebelum masuknya Katolik di Larantuka.
Figur perempuan di masyarakat Larantuka menempati posisi penting di alam semesta. Masyarakat menghormati sosok Dewi Kesuburan yang memberi mereka kemakmuran hidup. Perilaku ini diteruskan hingga sekarang dengan keberadaan Bunda Maria dalam konteks sosio-religius di masyarakat.
Donatus Sermada Kelen melihat tradisi Semana Santa sebagai katekese yang hidup. Katekese berarti pengajaran iman. Dalam konteks ini, tradisi Semana Santa berjalan tanpa adanya imam bahkan hingga berpuluh tahun. Keteguhan iman Umat Katholik lah yang berhasil membuatnya tetap hidup. Tradisi di Larantuka ini bahkan telah menjadi wisata rohani bagi Umat Katholik dari berbagai tempat di Indonesia hingga ke mancanegara
(dpw/dpw)










































